Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa seorang anak bisa mendadak tantrum hebat atau justru menutup diri sepenuhnya di tengah kegiatan belajar? Di balik perilaku tersebut, terdapat labirin perkembangan emosi yang kompleks yang menjadi fondasi utama bagaimana mereka memproses dunia di sekitarnya. Memahami pola dan pengaruh emosi ini bukan sekadar soal pengasuhan, melainkan kunci rahasia untuk membuka potensi akademis dan sosial anak secara maksimal.
Emosi mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia karena mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial. Pertumbuhannya bervariasi pada semua orang. Emosi dikendalikan oleh proses kematangan dan belajar.
Katarsis emosi membersihkan seseorang dari energi yang tidak tersalurkan. Dia mencegah ledakan emosi yang dapat menimbulkan penolakan sosial.
Emosi merupakan suatu keadaan di dalam diri seseorang, yang tidak kelihatan dan sulit diukur. Emosi sulit diprogram, sifatnya unik, dan emosi merupakan milik kita sendiri. Manusia memiliki
temperamen bawaan yang berbeda, sehingga rasa senang dan tidak senangpun berbeda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa emosi sebagian besar merupakan fungsi biologis. Meskipun demikian, cara kita merespon terhadap emosi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Berdasarkan hal tersebut permasalahan yang diangkat dalam makalah ini yaitu : Apa definisi
perkembangan emosi?; bagaimana pola dan variasi pola perkembangan emosi pada peserta didik?; bagaimana pola emosi peserta didik?; bagaimana pengaruh hormone, pengalaman dan emosi peserta didik?; bagaimana metode belajar penunjang perkembangan emosi peserta didik?; bagaimana kompetensi emosi yang harus dicapai peserta didik?
Sejak dilahirkan sampai tahun pertama, anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Para ahli mengungkapkan bahwa perkembangan pada tahun-tahun awal lebih kritis dibanding dengan perkembangan-perkembangan selanjutnya sehingga dapat dikatakan bahwa masa kanak-kanak merupakan gambaran awal seseorang sebagai seorang manusia.
Definisi Perkembangan Emosi
Perkembangan dan emosi merupakan dua hal yang berbeda secara etimologi. Perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan. Dalam perspektif psikologi, perkembangan merupakan perubahan progresif yang menunjukan cara bertingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungannya (
Wiyani, 2013 : 55). Sedangkan menurut Jamaris dalam Yuliani N Sujiono (2009 : 54), perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif. Artinya, perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya. Oleh sebab itu, lanjut Jamaris, apabila terjadi hambatan pada perkembangan terdahulu, maka perkembangan selanjutnya cenderung akan mendapat hambatan. Perkembangan manusia sendiri merupakan proses yang kompleks, yang dapat dibagi menjadi empat ranah utama, yaitu perkembangan fisik, intelektual yang termasuk kognitif dan bahasa, serta emosi dan sosial, yang di dalamnya juga termasuk perkembangan moral (Wiyani, 2013 : 55).
Santrock (2007 : 18-19) mengungkapkan bahwa pola perkembangan manusia dihasilkan oleh hubungan dari beberapa proses biologis, kognitif, dan sosial-emosi. Proses biologis, jelas Santrock, menghasilkan perubahan pada tubuh seseorang. Gen yang diwarisi orang tua, perkembangan otak,pertambahan tinggi dan berat badan, keterampilan motorik mencerminkan peran proses biologis dalam perkembangan. Sedangkan proses kognitif, menggambarkan perubahan dalam pikiran, intelegensi, dan bahasa seseorang. Kemudian yang terakhir,
proses sosial-emosi, melibatkan perubahan dalam hubungan dengan seseorang dengan orang lain, perubahan emosi, dan perubahan dalam kepribadian. Santrock mencontohkan dengan senyuman seorang bayi yang tersenyum karena sentuhan ibunya. Respon sesederhana itu, memerlukan proses biologis (karakteristik fisik sentuhan dan kepekaan terhadapnya), proses kognitif (kemampuan untuk memahami tindakan yang disengaja), dan proses sosial-emosi (senyum sering kali mencerminkan emosi positif dan senyuman membantu menghubungkan bayi dengan makhluk hidup yang lain).
Emosi (emotional) adalah upaya atau kesiapan seseorang untuk membangun, mempertahankan, atau mengubah hubungan antara orang tersebut dan keadaannya yang berubah, mengenai hal-hal yang penting bagi orang tersebut. Emosi sebagai perasaan, afeksi, yang terjadi ketika seseorang berada pada sebuah kondisi atau interaksi yang penting khusus untuk kesejahteraannya. (Campos, Frankel, & Camras, 2004). Emosi ditandai oleh prilaku yang mengekspresikan kondisi senang atau tidak senang seseorang atau transaksi yang sedang dialami (Mc Burnett dkk., 2005; steven, dkk., 2005
Emosi adalah letupan perasaan yang muncul dari dalam diri se seorang,baik bersifat positif ataupun negatif (Rahman, 2002 : 110). Sedangkan dalam pengertian yang sederhana,
Lawrence E. Shapiro dalam Suyadi (2010 : 109) menjelaskan bahwa emosi adalah kondisi kejiwaan manusia. Lawrence mengungkapkan karena sifatnya yang psikis atau kejiwaan, maka emosi hanya dapat dikaji melalui letupan-letupan emosioanal atau gejala-gejala dan fenomena-fenomena, seperti kondisi sedih, gembira, gelisah, benci, dan lain sebagainya.
Perkembangan emosi, dalam artian yang sederhana adalah luapan perasaan ketika anak berinteraksi dengan orang lain (Suyadi, 2010 : 108-109). Umar Fakhrudin (2010 : 48) menjelaskan bahwa perkembangan emosi adalah proses yang berjalan secara perlahan dan anak dapat mengontrol dirinya ketika menemukan
self comforting behavior atau merasa nyaman. Atau dengan kata lain, anak belajar emosinya secara bertahap.
Menurut
Elizabeth B. Hurlock sebagaimana yang dikutip Riris Eka Setiani (2012 : 23) dalam skripsinya yang berjudul
Metode Melatih Kecerdasan Emosional Anak, kemampuan anak untuk bereaksi secara emosional sudah ada semenjak bayi baru dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional ini adalah berupa keterangsangan umum. Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional mereka kurang menyebar, kurang sembarangan, lebih dapat dibedakan, dan lebih lunak karena mereka harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan.
Pola dan Variasi Pola Perkembangan Emosi
Pola dan vasiasi perkembangan emosi anak dikutif dari Hurlock, (1978), antara lain sebagai berikut :
1. Pada bayi yang baru lahir tidak memperlihatkan reaksi yang secara jelas dapat dinyatakan sebagai keadaan emosional yang spesifik. Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir, adapun gejala pertama perilaku emosional pada bayi antara lain keterangsangan yang kuat. Keterangsangan yang kuat dan berlebihan akan terlihat akan terlihat pada bayi yang baru lahir.
2. Pada usia kurang lebih 3 bulan muncul reaksi yang muncul pada bayi emosi senang dan tidak senang, reaksi tidak menyenangkan dapat diperoleh dengan mengubah posisi secara tiba-tiba, menempelkan benda dingi pada kulit bayi membuat bayi tersebut menangis. Rangsangan berupa yang menyenangkan berupa menyusui akan sangat menyenangkan pada bayi.
3. Meningkatkanya usia reaksi semakin meningkat seperti emosi takuk, marah, kecewa, benci dll. Keterikatan dengan orang lain (ibu/ayah) terpenuhi akan memupuk rasa aman dan rasa percaya.
4. Pola perkembangan emosi dapat diramalkan, tetapi terdapat variasi dari segi frequensi, intensitas dan waktu dari berbagai macam emosi serta usia kemunculannya. (
Hurlock, 1978 : 212)
5. Pada usia 2 – 4 tahun muncul
temper tantrum (reaksi ledakan marah) dan berlanjut dengan pola ekspresi kemaharan yang lebih matang seperti cemberut
Pola Emosi Peserta Didik
Berikut ini ada beberapa pola emosi yang dijelaskan Hurlock yang secara umum terdapat pada diri anak, yaitu :
Rasa Takut
Pola emosi yang berkaitan dengan rasa takut antara lain rasa malu, rasa canggung, rasa khawatir, rasa cemas. Rasa takut berpusat pada bahaya yang bersifat fantastik, adikodrati, dan samar-samar. Mereka takut pada gelap dan makhluk imajinatif yang diasosiasikan dengan gelap, pada kematian atau luka, pada kilat guntur, serta pada karakter yang menyeramkan yang terdapat pada dongeng, film, televisi, atau komik.Terlepas dari usia anak, ciri khas yang penting pada semua rangsangan takut ialah hal tersebut terjadi secara mendadak dan tidak diduga, dan anak-anak hanya mempunyai kesempatan yang sedikit untuk menyesuaikan diri dengan situasi tersebut. Namun seiring dengan per kembangan intelektual dan meningkatnya usia anak, mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Rasa Marah
Pada umumnya, kemarahan disebabkan oleh berbagai rintangan, misalnya rintangan terhadap gerak yang diinginkan anak baik rintangan itu berasal dari orang lain atau berasal dari ketidakmampuannya sendiri, rintangan tehadap aktivitas yang sudah berjalan dan sejumlah kejengkelan yang menumpuk. Reaksi kemarahan anak-anak secara garis besar dikategorisasikan menjadi dua jenis yaitu reaksi impulsif dan reaksi yang ditekan. Reaksi impulsif sebagian besar bersifat menghukum keluar (extra punitive),dalam arti reaksi tersebut diarahkan kepada orang lain, misalnya dengan memukul, menggigit, meludahi, meninju, dan sebagainya. Sebagian kecil lainnya bersifat ke dalam (intra punitive), dalam arti anak-anak mengarahkan reaksi pada dirinya sendiri.
Rasa Cemburu
Rasa cemburu adalah reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata, dibayangkan, atau ancaman kehilangan kasih sayang. Cemburu disebabkan kemarahan yang menimbulkan sikap jeng kel dan ditujukan kepada orang lain. Pola rasa cemburu seringkali ber asal dari takut yang berkombinasi dengan rasa marah. Orang yang cemburu sering kali merasa tidak tentram dalam hubungannya dengan orang yang dicintai dan takut kehilangan status dalam hubungannya itu.
Ada tiga sumber utama yang menimbulkan rasa cemburu. Pertama, merasa diabaikan atau diduakan. Rasa cemburu pada anak-anak umum nya tumbuh di rumah. Sebagai contoh, seorang bayi yang baru lahir yang pasti meminta banyak waktu dan perhatian orang tuanya. Sementara itu kakaknya yang lebih tua merasa diabaikan. Ia merasa sakit hati terhadap adiknya itu. Kedua, situasi sekolah. Sumber ini biasanya menimpa anak-anak usia sekolah. Kecemburuan yang berasal dari rumah sering dibawa ke sekolah yang mengakibatkan anak-anak memandang setiap orang, baik guru atau teman-teman kelasnya sebagai ancaman bagi keamanan mereka. Untuk melindungi keamanan mereka, anak-anak kemudian mengembangkan kepemilikan pada salah satu guru atau teman sekelasnya. Kecemburuan juga bisa disulut oleh guru yang suka membandingkan anak satu dengan anak lain. Ketiga, kepemilikan terhadap barang-barang yang dimiliki orang lain membuat mereka merasa cemburu. Jenis kecemburuan ini berasal dari rasa iri yaitu keadaan marah dan kekesalan hati yang ditujukan kepada orang yang memiliki barang yang diinginkannya itu.
Duka Cita
Bagi anak-anak,
duka cita bukan merupakan keadaan yang umum. Hal ini dikarenakan tiga alasan. Pertama, para orangtua, guru, dan orang dewasa lainnya berusaha mengamankan anak tersebut dari berbagai duka cita yang menyakitkan karena hal itu dapat merusak kebahagiaan masa kanak-kanak dan dapat menjadi dasar bagi masa dewasa yang tidak bahagia. Kedua, anak-anak terutama apabila mereka masih kecil, mempunyai ingatan yang tidak bertahan terlalu lama, sehingga mereka dapat dibantu melupakan duka cita tersebut, bila ia dialihkan kepada sesuatu yang menyenangkan.
Kemudian ketiga, tersedianya pengganti untuk sesuatu yang telah hilang, mungkin berupa mainan yang disukai, ayah atau ibu yang dicintai, sehingga dapat memalingkan mereka dari kesedihan kepada kebahagiaan. Namun, seiring dengan meningkatnya usia anak, kesediaan anak semakin bertambah dan untuk mengalihkan kesedihan dari anak-anak tidak efektif lagi.
Keingintahuan
Anak-anak menunjukan keingintahuan melalui berbagai perilaku, misalnya dengan bereaksi secara positif terhadap unsur-unsur yang baru, aneh, tidak layak atau misterius dalam lingkunganya dengan bergerak ke arah benda tersebut, memperlihatkan kebutuhan atau keinginan untuk lebih banyak mengetahui tentang dirinya sendiri atau lingkunganya untuk mencari pengalaman baru dan memeriksa rangsangan dengan maksud untuk lebih banyak mengetahui selukbeluk unsur-unsur tersebut.
Kegembiraan
Gembira adalah emosi yang menyenangkan yang dikenal juga dengan kesenangan atau kebahagiaan. Seperti bentuk emosi-emosi sebelumnya. Kegembiraan pada setiap anak berbeda-beda, baik mencakup intensitasnya maupun cara mengekspresikannya.
Kasih Sayang
Kasih sayang adalah reaksi emosional terhadap seseorang atau binatang atau benda. Hal ini menunjukan perhatian yang hangat dan memungkinkan terwujud dalam bentuk fisik atau kata-kata verbal (Riris Eka Seriani, 2012 : 31-35). Namun yang harus diketahui, bahwa setiap anak mempunyai emosi yang berbeda. Hal ini bisa terlihat dari bagaimana anak mengekspresikan tentang suatu keadaan, sedih misalnya. Sebagaian anak mengekspresikan kesedihan dengan menangis. Tetapi, bagi anak yang lain dalam mengekspresikan kesedihan bisa dengan wajah murung dan menyendiri di kamar atau yang lainnya.
Berdasarkan hal itu, oleh karenanya perkembangan emosi anak perlu men dapatkan perhatian yang lebih, terutama dari orang tua karena kondisi emosi seorang anak akan berdampak kepada penyesuaian pribadi dan lingkungan sosialnya. Berpijak dari hal itu, keluarga mempunyai peranan yang utama dan pertama karena pendidikan emosi anak dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua harus terampil dalam memberikan pendidikan emosi kepada anak agar anak mampu bergaul dengan baik.
Pengaruh Hormon, Pengalaman dan Emosi Peserta Didik
Fluktuasi emosi di masa remaja awal mungkin berkaitan dengan variabilitas
hormon (
Santrok, 2007 : 202). Ketika memasuki masa dewasa, suasana hati menjadi kurang ekstrem dan berkurangnya flutuasi emosional ini berkaitan dengan adaptasi terhadap kadar hormone seiring dengan berjalannya waktu (Rosenblum and lewis, 2003 dalam Santrok, 2007).
Penelitian menunjukan bahwa perubahan pubertas berkaitan dengan emosi-emosi negatif (archibald, & Brooks-Gunn, 2003 dalam santrok 2007). Peneliti berkesimpulan bahwa pengaruh hormonal Hasil penelitian lain, menunjukan bahwa pengaruh hormonal itu kecil jika dibandingkan dengan faktor lain, seperti stres, pola makan, aktivitas seksual dan relasi sosial (Susan & Rogol, 2004 dalam santrok, 2007). Sesungguhnya pengalaman lingkungan berpengaruh atau memberikan kontribusi besar terhadap emosi remaja dibandingkan dengan perubahan hormonal. Factor-faktor sosial menjelaskan sebesar dua atau empat kali lebih besar dibandingkan dengan factor hormonal, untuk varian depresi dan kemarahan remaja. Santrok (2007).
Diantara pengalaman yang menekan mungkin berkontribusi terhadap perubahan dalam emosi di masa remaja adalah transisi ketika memasuki sekolah menengah pertama dan munculnya pengalaman sosial dan relasi romantic (santrok : 2007 : 202). Perubahan hormonal dan pengalaman lingkungan terlibat dalam perubahan emosi di masa remaja, demikian pula dengan kemampuan remaja dalam mengelola emosinya.
Metode Belajar Penunjang Perkembangan Emosi
- Belajar dengan cara coba dan ralat (trial and error learning), cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa anak-anak dbanding usia remaja atau dewasa. Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekpresikan emosi dalam bentuk prilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan.
- Belajar dengan cara meniru (learning by imitation), dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi tertentu pada orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang lain yang diamati. Contohnya Guru menegur siswa yang ribut, dengan suara keras akan memberikan reaksi emosi marah pada siswa tersebut.
- Belajar dengan cara mepersamakan diri (learning by identification), sama seperti cara belajar meniru, anak akan menirukan reaksi emosional orang lain dan tergugah oleh reaksi emosional yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi yang ditiru. Contohnya Siswa menirukan orang yang dikaguminya yang memiliki ikatan emosional, dan motivasi untuk menirukan orang yang dikaguminya lebih kuat dibandingkan dengan motivasi menirukan sembarang orang.
- Belajar melalui Pengkondisian (conditioning), pengkondisian berarti belajar dengan cara asosiasi. Dalam metode ini objek dan situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada awal kehidupan anak, penggunaan metode pengkondisian setelah melewati masa anak-anak semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.
- Pelatihan (traning), belajar dibawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika emosi terangsang, dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi emosional.
Kompetensi Emosi
Perkembangan emosional anak-anak relatif terhadap penyesuaian psikologis atau kesejahteraan mereka secara keseluruhan adalah memeriksa tingkat fungsi mereka sesuai dengan tingkat yang menurut Anda memiliki berbagai karakteristik
keterampilan kompetensi emosional. Mirip dengan konstruksi semacam itu sebagai kesejahteraan, penyesuaian sosial, dan ego-ketahanan, konstruk kompetensi emosional adalah istilah superordinatif yang mengurangi sejumlah keterampilan terkait emosi. Definisi kompetensi emosional sangat mudah: itu adalah demonstrasi
self-efficacy dalam transaksi sosial yang memunculkan emosi. Di tempat lain Salah satu dari kita (Saarni, 1999) telah secara luas meninjau kontributor perkembangan untuk kompetensi emosional; Secara singkat, mereka termasuk identitas diri atau ego, arti moral atau karakter, dan sejarah perkembangan seseorang. Komponen kompetensi emosional adalah keterampilan yang diperlukan untuk self-efficacy dalam transaksi sosial yang memunculkan emosi.
Kesadaran akan keadaan emosi seseorang, termasuk kemungkinan bahwa seseorang mengalami beberapa emosi, dan pada tingkat yang lebih matang, kesadaran bahwa seseorang mungkin juga tidak secara sadar menyadari emosi seseorang karena dinamika yang tidak disadari atau kurangnya perhatian.
Keterampilan dalam membedakan emosi orang lain, berdasarkan situasi dan isyarat ekspresif yang beberapa derajat konsensus budaya mengenai makna emosional mereka.
Keterampilan dalam menggunakan kosakata istilah emosi dan ekspresi yang umumnya tersedia dalam subkultur seseorang dan pada skill tingkat yang lebih matang cetak mengakuisisi skrip budaya yang menghubungkan emosi dengan peran sosial.
Kapasitas untuk keterlibatan empati dan simpatik dalam pengalaman emosional orang lain.
Keterampilan dalam memahami bahwa keadaan emosional bagian dalam tidak perlu sesuai dengan ekspresi luar, baik dalam diri sendiri maupun pada orang lain, dan pada tingkat yang ditumbuk menurunkan perilaku ekspresif emosional seseorang dapat berdampak pada yang lain dan untuk memperhitungkan strategi presentasi diri seseorang.
Keterampilan dalam mengatasi emosi yang permusuhan dan keadaan yang menyedihkan dengan menggunakan strategi peraturan diri yang memperbaiki intensitas atau durasi temporal dari keadaan emosi seperti itu (mis., Stres kekerasan) dan dengan menggunakan strategi pemecahan masalah yang efektif untuk berurusan dengan situasi yang bermasalah.
Kesadaran bahwa struktur atau sifat hubungan sebagian besar didefinisikan oleh bagaimana dikomunikasikan dalam imediasi relasional atau keaslian tampilan ekspresial dan oleh tingkat timbal balik emosional atau simetri dalam hubungan (misalnya, keintiman matang sebagian didefinisikan oleh timbal balik atau. Berbagi timbal balik emosi asli, tetapi
hubungan orangtua-anak mungkin memiliki berbagi asimetris dari emosi asli).
Kapasitas untuk self-efficacy emosional: individu memandang dirinya sendiri sebagai perasaan, secara keseluruhan, cara dia ingin merasakan. Self-efficacy emosional berarti bahwa seseorang menerima pengalaman emosional seseorang, baik yang unik dan eksentrik atau konvensional secara budaya, dan penerimaan ini berurusan dengan keyakinan individu tentang apa yang dimaksud dengan keseimbangan emosional yang diinginkan. Intinya, seseorang hidup sesuai dengan teori pribadi seseorang tentang emosi dan moral, ketika seseorang menunjukkan self-efficacy emosional.
Kesimpulan
Dalam artian yang sederhana, perkembangan emosional adalah luapan perasaan ketika anak berinteraksi dengan orang lain. Sementara perkembangan sosial adalah tingkat jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat secara luas. Dengan demikian, perkembangan sosio emosional adalah ke pekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa perkembangan sosial emosional sejatinya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kata lain, membahas perkembangan emosi harus bersinggungan dengan perkembangan sosial anak. Demikian juga sebaliknya, membahas perkembangan sosial harus melibatkan aspek emosional sebab keduanya terintegrasi dalam bingkai kejiwaan yang utuh.
Perkembangan sosial dan emosi yang positif memudahkan anak untuk bergaul dengan sesamanya dan belajar dengan lebih baik, juga dalam aktifitas lainnya di lingkungan sosial. Oleh karena itu, sangat penting memahami dan membantu anak-anak untuk memahami perasaan sendiri dan perasaan anak-anak lain untuk mengembangkan rasa hormat dan kepedulian kepada orang lain.
Referensi
Eisenberg, Nancy. (2006)
Handbook Of Child Psychology. Sixth Edition Volume Three: Social, Emotional, and Personality Development. John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, New Jersey.
Hurlock, Elizabet B (1978). Perkembangan Anak, Jilid 1 Edisi keenam. Jakarta : erlangga
Riris Eka Setiani, Metode Melatih
Kecerdasan Emosional pada Anak di SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyah Purwokerto, Skripsi, STAIN Purwokerto 2012.
Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga.
Seefeld, Caroll dan A. Wasik. 2008. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Indeks.
Wiyani, Novan Ardy. 2013. Bina Karakter Anak Usia Dini . Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.
Wulan, Ratna. 2011. Mengasah Kecerdasan Pada Anak. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.