Artikel ini membahas rahasia yang dilakukan oleh guru dan orang tua untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
![]() |
| Dikusi orang tua dan guru |
Pernahkah Anda merasa sudah memberikan les tambahan, namun nilai anak tetap di situ-situ saja? Atau sebagai guru, Anda sudah mengajar dengan maksimal tapi kelas terasa tidak hidup?
Hasil belajar siswa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan atau sekolah favorit. Faktanya, kolaborasi antara guru dan orang tua memegang peran kunci dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan prestasi akademik siswa. Ketika keduanya berjalan searah, dampaknya bisa terlihat lebih cepat dan signifikan.
Lalu, apa saja rahasia yang bisa diterapkan guru dan orang tua agar hasil belajar siswa meningkat secara instan? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Mengapa Pembelajaran Aktif di Kelas Dapat Meningkatkan Partisipasi Siswa?
Langkah Guru yaitu Berikan update mingguan singkat mengenai apa yang dipelajari di kelas melalui grup WhatsApp atau aplikasi sekolah. Tetapi seorang guru melakukan komunikasi darat untuk : (1) Menyampaikan perkembangan belajar siswa secara rutin; (2) Memberi umpan balik yang jelas tentang kekuatan dan kelemahan siswa; (3) Menjelaskan target pembelajaran yang harus dicapai.
Langkah Orang Tua yaitu Jangan ragu bertanya, "Bagaimana sikap anak saya saat diskusi di kelas hari ini?" daripada sekadar bertanya "Tadi belajar apa?". Melalui pertemuan rutin atau konsultasi dengan wali kelas atau guru wali, orang tua untu; : (1) Menanyakan progres belajar anak, bukan hanya nilai; (2) Menindaklanjuti saran guru di rumah; dan (3) Tidak menunggu rapor untuk berdiskusi.
Hasil yang dilakukan tersebut diharapkan siswa merasa diperhatikan, lebih termotivasi, dan tahu apa yang harus diperbaiki.
Orang tua perlu memahami metode yang digunakan guru di kelas. Jika guru menggunakan metode active learning, orang tua di rumah harus mendukung dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang memancing logika anak, bukan sekadar menyuruh menghafal. Dalam hal ini guru harus menjelaskan metode belajar yang digunakan di kelas, dan orang tua harus membuat jadwal belajar dibuat tetap dan yang disepakati anak
Orang tua harus menata ruangan di rumah, seperti pojok belajar yang aman dan nyaman, bebas gangguan gadget. Orang tua harus meng menghindari membandingkan anak dengan teman lain, memberi pujian atas usaha, bukan hanya hasil. Ketika siswa tidak takut salah, mereka lebih berani bertanya dan mencoba, yang otomatis meningkatkan pemahaman.
Langkah yang diperhatikan guru yaitu berikan tugas rumah (PR) yang bersifat eksploratif, bukan sekadar membuat jawaban soal matematika yang membosankan, sehingga orang tua bisa ikut terlibat dalam diskusi yang menyenangkan. Contohnya membuat resensi buku yang sedang di baca. Guru harus berperan dalam memberi apresiasi pada usaha siswa dan menilai proses berpikir, bukan hanya jawaban akhir
1. Jembatan Komunikasi "Dua Arah" (Bukan Satu Arah)
Rahasia pertama yang sering diabaikan adalah komunikasi yang konsisten dan terarah. Guru tidak boleh hanya mengirim rapor di akhir semester, dan orang tua tidak boleh hanya datang saat pembagian nilai.Langkah Guru yaitu Berikan update mingguan singkat mengenai apa yang dipelajari di kelas melalui grup WhatsApp atau aplikasi sekolah. Tetapi seorang guru melakukan komunikasi darat untuk : (1) Menyampaikan perkembangan belajar siswa secara rutin; (2) Memberi umpan balik yang jelas tentang kekuatan dan kelemahan siswa; (3) Menjelaskan target pembelajaran yang harus dicapai.
Langkah Orang Tua yaitu Jangan ragu bertanya, "Bagaimana sikap anak saya saat diskusi di kelas hari ini?" daripada sekadar bertanya "Tadi belajar apa?". Melalui pertemuan rutin atau konsultasi dengan wali kelas atau guru wali, orang tua untu; : (1) Menanyakan progres belajar anak, bukan hanya nilai; (2) Menindaklanjuti saran guru di rumah; dan (3) Tidak menunggu rapor untuk berdiskusi.
Hasil yang dilakukan tersebut diharapkan siswa merasa diperhatikan, lebih termotivasi, dan tahu apa yang harus diperbaiki.
2. Sinkronisasi Gaya Belajar di Sekolah dan di Rumah
Salah satu penyebab hasil belajar stagnan adalah perbedaan pola belajar di sekolah dan di rumah. Sering terjadi "bentrokan" metode. Guru mengajarkan cara A, orang tua memaksa cara B. Ini membuat siswa bingung.Orang tua perlu memahami metode yang digunakan guru di kelas. Jika guru menggunakan metode active learning, orang tua di rumah harus mendukung dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang memancing logika anak, bukan sekadar menyuruh menghafal. Dalam hal ini guru harus menjelaskan metode belajar yang digunakan di kelas, dan orang tua harus membuat jadwal belajar dibuat tetap dan yang disepakati anak
3. Menciptakan "Atmosfer Belajar" yang Konsisten
Nilai penting, tapi proses belajar jauh lebih penting untuk hasil jangka panjang. Agar proses belajar berjalan dengan baik, maka perlu menciptakan “atmosfer belajar” atau suasana yang mendukung.Orang tua harus menata ruangan di rumah, seperti pojok belajar yang aman dan nyaman, bebas gangguan gadget. Orang tua harus meng menghindari membandingkan anak dengan teman lain, memberi pujian atas usaha, bukan hanya hasil. Ketika siswa tidak takut salah, mereka lebih berani bertanya dan mencoba, yang otomatis meningkatkan pemahaman.
Langkah yang diperhatikan guru yaitu berikan tugas rumah (PR) yang bersifat eksploratif, bukan sekadar membuat jawaban soal matematika yang membosankan, sehingga orang tua bisa ikut terlibat dalam diskusi yang menyenangkan. Contohnya membuat resensi buku yang sedang di baca. Guru harus berperan dalam memberi apresiasi pada usaha siswa dan menilai proses berpikir, bukan hanya jawaban akhir
