Rahasia Guru & Orang Tua: Cara Instan Tingkatkan Hasil Belajar Siswa!

Artikel ini membahas rahasia yang dilakukan oleh guru dan orang tua untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Diskusi orang tua dan guru
Dikusi orang tua dan guru


Pernahkah Anda merasa sudah memberikan les tambahan, namun nilai anak tetap di situ-situ saja? Atau sebagai guru, Anda sudah mengajar dengan maksimal tapi kelas terasa tidak hidup?

Hasil belajar siswa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan atau sekolah favorit. Faktanya, kolaborasi antara guru dan orang tua memegang peran kunci dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan prestasi akademik siswa. Ketika keduanya berjalan searah, dampaknya bisa terlihat lebih cepat dan signifikan.

Lalu, apa saja rahasia yang bisa diterapkan guru dan orang tua agar hasil belajar siswa meningkat secara instan? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Mengapa Pembelajaran Aktif di Kelas Dapat Meningkatkan Partisipasi Siswa?

1. Jembatan Komunikasi "Dua Arah" (Bukan Satu Arah)

Rahasia pertama yang sering diabaikan adalah komunikasi yang konsisten dan terarah. Guru tidak boleh hanya mengirim rapor di akhir semester, dan orang tua tidak boleh hanya datang saat pembagian nilai.

Langkah Guru yaitu Berikan update mingguan singkat mengenai apa yang dipelajari di kelas melalui grup WhatsApp atau aplikasi sekolah. Tetapi seorang guru melakukan komunikasi darat untuk : (1) Menyampaikan perkembangan belajar siswa secara rutin; (2) Memberi umpan balik yang jelas tentang kekuatan dan kelemahan siswa; (3) Menjelaskan target pembelajaran yang harus dicapai.

Langkah Orang Tua yaitu Jangan ragu bertanya, "Bagaimana sikap anak saya saat diskusi di kelas hari ini?" daripada sekadar bertanya "Tadi belajar apa?". Melalui pertemuan rutin atau konsultasi dengan wali kelas atau guru wali, orang tua untu; : (1) Menanyakan progres belajar anak, bukan hanya nilai; (2) Menindaklanjuti saran guru di rumah; dan (3) Tidak menunggu rapor untuk berdiskusi.

Hasil yang dilakukan tersebut diharapkan siswa merasa diperhatikan, lebih termotivasi, dan tahu apa yang harus diperbaiki.


2. Sinkronisasi Gaya Belajar di Sekolah dan di Rumah

Salah satu penyebab hasil belajar stagnan adalah perbedaan pola belajar di sekolah dan di rumah. Sering terjadi "bentrokan" metode. Guru mengajarkan cara A, orang tua memaksa cara B. Ini membuat siswa bingung.

Orang tua perlu memahami metode yang digunakan guru di kelas. Jika guru menggunakan metode active learning, orang tua di rumah harus mendukung dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang memancing logika anak, bukan sekadar menyuruh menghafal. Dalam hal ini guru harus menjelaskan metode belajar yang digunakan di kelas, dan orang tua harus membuat jadwal belajar dibuat tetap dan yang disepakati anak

3. Menciptakan "Atmosfer Belajar" yang Konsisten

Nilai penting, tapi proses belajar jauh lebih penting untuk hasil jangka panjang. Agar proses belajar berjalan dengan baik, maka perlu menciptakan “atmosfer belajar” atau suasana yang mendukung.

Orang tua harus menata ruangan di rumah, seperti pojok belajar yang aman dan nyaman, bebas gangguan gadget. Orang tua harus meng menghindari membandingkan anak dengan teman lain, memberi pujian atas usaha, bukan hanya hasil. Ketika siswa tidak takut salah, mereka lebih berani bertanya dan mencoba, yang otomatis meningkatkan pemahaman.

Langkah yang diperhatikan guru yaitu berikan tugas rumah (PR) yang bersifat eksploratif, bukan sekadar membuat jawaban soal matematika yang membosankan, sehingga orang tua bisa ikut terlibat dalam diskusi yang menyenangkan. Contohnya membuat resensi buku yang sedang di baca. Guru harus berperan dalam memberi apresiasi pada usaha siswa dan menilai proses berpikir, bukan hanya jawaban akhir

4. Fokus pada "Proses", Bukan Sekadar "Angka"

Ini adalah rahasia mentalitas. Jika guru dan orang tua terlalu fokus pada nilai ujian, siswa akan merasa tertekan. Langkah yang harus dilakukan orang tua dan guru yaitu rayakan kemajuan-kemajuan kecil. Jika siswa yang biasanya malu mulai berani bertanya di kelas, guru harus mengapresiasi dan orang tua harus memberikan pujian di rumah. Motivasi yang tumbuh dari apresiasi jauh lebih efektif daripada paksaan nilai 100.

5. Manfaatkan Teknologi sebagai Alat Pantau Progres

Di era digital, meningkatkan hasil belajar siswa bisa dilakukan secara instan dengan bantuan alat pemantau. Langkah praktis yang dilakukan yaitu Gunakan checklist atau aplikasi bersama di mana guru bisa mengunggah progres harian dan orang tua bisa langsung memberikan feedback. Ini memastikan tidak ada celah bagi siswa untuk "malas-malasan" tanpa diketahui.

6. Menanamkan Motivasi dan Tujuan Belajar yang Jelas

Siswa yang tahu alasan belajar akan lebih bersemangat. dalam hal ini guru harus berperan untuk mengaitkan materi dengan kehidupan nyata dan menjelaskan manfaat praktis dari pelajaran. Orang tua harus mengajak anak berdiskusi tentang cita-cita dan menunjukkan hubungan belajar dengan masa depan. Motivasi internal inilah yang membuat hasil belajar meningkat secara alami.

7. Evaluasi Rutin dan Perbaikan Berkelanjutan

Rahasia terakhir adalah evaluasi yang konsisten yaitu Guru mengevaluasi metode mengajar, Orang tua mengevaluasi cara mendampingi anak dan Siswa diajak merefleksikan kesulitan belajar. Dengan evaluasi rutin, masalah belajar bisa segera diperbaiki sebelum menjadi kebiasaan buruk.

8. Kesimpulan

Meningkatkan hasil belajar siswa tidak harus rumit. Kolaborasi yang solid antara guru dan orang tua, komunikasi yang baik, pola belajar yang konsisten, serta pendampingan yang tepat adalah kunci utama. Meningkatkan hasil belajar siswa bukanlah tugas satu orang. Ini adalah kerja tim. Ketika guru memberikan kualitas pembelajaran terbaik di kelas dan orang tua menyambutnya dengan dukungan penuh di rumah, maka kesuksesan anak hanyalah masalah waktu.






Permainan Sepak Bola : Pengertian, Gerak Spesifik, Latihan dan Permainan Sederhana untuk Pemula

Permainan sepak bola adalah salah satu permainan yang sangat populer di seluruh dunia. Banyak pemain profesional yang hidup dari sepak bola dengan gaji yang sangat mengiurkan. berikut ini adalah pengertian, teknik dasar (gerak spesifik) serta latihan untuk bermain sepak bola.

1. Apersepsi



Sepak bola adalah salah satu cabang olahraga yang paling popular di seluruh dunia, setiap Negara berharap timnasnya dapat lolos ke piala dunia, sehingga banyak Negara membina sepak bola dimulai sejak usia dini dengan harapan terjadinya peningkatan peringkat atau level sepak bola. Indonesia tentunya berharap dapat meningkatkan prestasi cabang olahraga sepak bola yang dibina oleh PSSI sebagai induk resmi.

Menjadi pemain hebat dan terkenal adalah dambaan setiap para remaja dan orang tua. Menjadi hebat membutuhkan pengorbanan dan perjuangan yang keras. Pemain muda berbakat seperti Egi Maulana Fikri telah menjadi kebanggan Indonesia dengan mampu berlaga di liga Negara Eropa, telah menjadi icon dan inpirasi bagi remaja lainnya untuk terus berlatih dan berjuang menjadi pemain hebat.

Daya juang, disipling dan kerja keras harus diwujudkan dalam berlatih. Karakter tersebut menjadi motivasi untuk meningkatkan teknik dan keterampilan bermain. Gerak spesifik permainan sepak bola sangat penting dikuasai sampai tingkat mahir. Dengan gerak spesifik yang baik akan meningkatkan daya saing untuk menjadi pemain terbaik dan menjadi incaran para klub liga dalam negeri maupun luar negeri.

Masih ingatkah materi pelajaran permainan sepak bola ketika di kelas? Semasa di kelas Anda telah mempelajari tentang berbagai gerak spesifik permainan sepak bola diantaranya adalah gerak spesifik menendang bola, gerak spesifik menahan bola, gerak spesifik menggiring bola. Sekarang Anda pahami dan mencoba praktikan variasi latihan untuk meningkatkan kemampuan gerak spesifik permainan sepak bola.

2. Variasi Gerak Spesifik Menendang Bola

Menendang bola tentunya memiliki berbagai macam tujuan, tidak semata untuk menjauhkan bola. Posisi pemain memiliki peran dan tujuan spesifik, misalnya pemain depan menendang untuk memasukan bola ke gawang, pemain belakang menendang bola diserang pemain lawan memiliki tujuan untuk mengamankan pertahan, pemain tengah menendang bola bertujuan untuk mengumpan atau memainkan bola untuk mencari celah dalam menyerang.

Menendang bola dengan tujuan untuk mengumpan dapat dilakukan oleh semua orang, mengumpan pada jarak pendek umumnya menggunakan kaki bagian dalam dan bagian luar, sedangkan untuk umpan jauh dan bolanya melambung tinggi, umumnya dilakukan dengan punggung atau punggung kaki bagian dalam.

/>

a. Gerak Spesifik Menendang/Mengumpan Bola dengan Kaki Bagian Dalam

Cermati gambar di bawah ini


Untuk dapat mempraktikan gerak spesifik menendang bola dengan kaki bagian bawah seperti gambar di samping, ikutilah petujuk di bawah ini:

Sikap awal
  • Berdiri selebar bahu di belakang bola
  • Amati jarak teman yang akan di beri umpan
  • Pandangan fokus terhadap bola
Pelaksanaan gerak
  • Langkahkan kaki dan letakan di samping bola (tidak terlalu rapat dengan bola)
  • Ayunkan kaki yang akan digunakan untuk menendang
  • Tendang bola menggunakan kaki bagian dalam di area tengah bola agar bola bergulir
  • Pandangan fokus terhadap pergerakan bola
Sikap akhir
  • Ikuti ayunan kaki tendang mengikuti arah bola
  • Jaga keseimbangan tubuh setelah melakukan tendangan

b. Menendang menggunakan kaki bagian luar

Cermati gambar di bawah ini

Untuk dapat mempraktikan gerak spesifik menendang bola menggunakan kaki bagian luar seperti gambar di samping, ikutilah petujuk di bawah ini :

Sikap awal

  • Berdiri selebar bahu di belakang bola
  • Amati jarak teman yang akan di beri umpan
  • Pandangan fokus terhadap bola

Pelaksanaan gerak

  • Langkahkan kaki dan letakan di samping bola (tidak terlalu rapat dengan bola)
  • Ayunkan kaki yang akan digunakan untuk menendang
  • Tendang bola menggunakan kaki bagian luar di area tengah bola agar bola bergulir

Sikap akhir

  • Ayunan kaki tendang mengikuti arah bola
  • Jaga keseimbangan tubuh setelah melakukan tendangan

c. Menendang menggunakan punggung kaki

Cermati gambar di bawah ini



Untuk dapat mempraktikan gerak spesifik menendang bola menggunakan punggung kaki seperti gambar di samping, ikuti petujuk di bawah ini:

Sikap awal

  • Berdiri selebar bahu di belakang bola
  • Amati jarak teman yang akan di beri umpan
  • Kedua lengan dilemaskan disamping badang
  • Pandangan fokus terhadap bola

Pelaksanaan gerak

  • Langkahkan kaki dan letakan di samping bola (tidak terlalu rapat dengan bola)
  • Ayunkan kaki yang akan digunakan untuk menendang
  • Tendang bola menggunakan punggung di area bawah bola agar bola melambung tinggi
  • Pandangan fokus terhadap pergerakan bola

Sikap akhir

  • Ikuti ayunan kaki tendang mengikuti arah bola
  • Berdiri dan menjaga keseimbangan tubuh
Berdasarkan ketiga gambar tersebut, apa yang membedakan cara menendang bola dengan kaki bagian luar dan kaki bagian dalam? Sama seperti cara menendang bola dengan kaki bagian dalam, tujuan menenendang dengan kaki bagian luar yaitu untuk mengumpan pada jarak dekat. Dalam permainan sepak bola selain mempergunakan umpan-umpan pendek sering pula mengumpan pada jarak jauh. Umumnya umpan pada jarak jauh bola hasil tendangan melambung tinggi atau menyusuri rumput. Dalam permainan dilakukan sangat tergantung dari kondisi pada saat akan melakukan tendangan. Bagian kaki yang digunakan untuk umpan jarak jauh yaitu punggung kaki dan punggung kaki bagian dalam.

d. Variasi Latihan Gerak Spesifik Menendang bola

Variasi Latihan mengumpan dilakukan untuk meningkatkan penguasaan gerak spesifik yang dijelaskan di atas. Hal yang harus diperhatikan dalam mengumpan antara lain : 1) pastikan bagian tengah bola yang harus ditendang; 2) hasil tendangan harus menysusuri tanah atau rumput (tidak melambung); 3) pastikan bola yang ditendang harus sampai dan lurus dan dapat dikuasai oleh teman yang dihadapannya.

Aktivitas 1 : Menendang bola dengan cara berpasangan

Amatilah ilustrasi gambar di bawah ini


Menendang bola dengan cara berpasangan dapat dilakukan pada jarak 3 meter atau lebih. Untuk dapat mempraktikannya, ikutilah petunjuk di bawah ini :
  • Dua orang berdiri sejajar pada jarak 3 meter
  • satu orang memengang bola yang diletakan di depan kaki dan temannya bersiap menerima bola
  • Tentukan jenis tendangan yang akan dilakukan untuk 5 menit pertama untuk tendangan menggunakan kaki bagian dalam, 5 menit kedua tendangan menggunakan kaki bagian luar
  • Perhatikan hasil tendangan yang telah dilakukan, pastikan bahwa bola yang ditendang harus bergulir dirumput atau tanah.

Aktivitas 2 : Menendang dengan cara berkelompok

Amatilah ilustrasi gambar di bawah ini

Tips :

  • Tendang bola secara perlahan (tenaga kecil) untuk umpan jarak pendek, dan keras (tenaga penuh) untuk umpan jarak jauh
  • Beri ruang yang nyaman agar rekan dapat dengan mudah untuk memberi umpan.

Untuk dapat mempraktikan gerak spesifik menendang bola menggunakan punggung kaki seperti gambar di samping, ikuti petujuk di bawah ini :

  • Buatlah kelompok dengan jumlah anggota kelompok misalnya 5 – 6 orang
  • Bagi menjadi dua kelompok kecil, tiap kelompok kecil berdiri sejajar pada jarak 3 meter
  • Satu kelompok kecil memegang bola dan diletakan didepan kaki orang terdepan dan kelompok yang dihadapanya siap untuk menerima bola
  • Tentukan jenis tendangan yang akan dilakukan, misalnya untuk 5 menit pertama tendangan menggunakan kaki bagian dalam dan 5 menit kedua menendang dengan kaki bagian dalam
  • Jika orang pertama telah menendang bola yang diarahkan ke temannya diseberang berpindah ke belakang dan menunggu giliran menendang, hal yang sama dilakukan untuk kelompok yang ada dihadapannya.
  • Lakukan latihan tersebut dengan cara bergiliran dan tidak boleh berebut
  • Perhatikan setiap tendangan yang telah dilakukan, pastikan bahwa bola yang ditendang harus bergulir menyusuri rumput atau tanah.

Aktivitas 3 : Menendang bola secara berkelompok dengan membentuk segitiga 

Amatilah ilustrasi gambar di bawah

Untuk dapat mempraktikan gerak spesifik menendang bola secara berkelompok dengan membentuk segitiga, seperti gambar di samping, ikuti petujuk di bawah ini.
  • Buatlah kelompok dengan jumlah anggota kelompok 6 – 8 orang.
  • Bagi menjadi 3 kelompok kecil, tiap kelompok kecil berdiri dan membetuk segitiga sama sisi dengan jarak 3 meter
  • Satu kelompok kecil di pos 1 memegang bola dan diletakkan didekat kaki orang yang paling depan dan orang yang paling depan di pos 2 bersiap menerima bola. Tentukan jenis tendangan yang akan dilakukan, misalnya pada 5 menit pertama menendang dengan menggunakan kaki bagian dalam dan 5 menit kedua menendang dengan menggunakan kaki bagian luar
  • Bola di tendang lurus dan diarahkan ke depan teman di pos 2, orang yang paling depan di pos 2 menerima dan menendang bola ke arah pos 3, orang yang paling depan di pos 3 menerima dan menendang bola ke arah pos 1.
  • Tiap orang yang telah melakukan tendangan berpindah tempat ke posisi belakang untuk memberikan kesempatan kepada rekannya di tiap pos
  • Lakukan mengumpan bola tersebut tanpa mengontrol bola, jadi bola ditendang langsung pada jarak 20 meter. Perhatikan setiap tendangan yang telah dilakukan, pastikan bahwa bola yang ditendang harus bergulir menyusuri rumput atau tanah.

Aktivitas 4 : Menendang bola dengan membentuk segiempat

Amatilah ilustrasi gambar di bawah ini


Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk menendang bola dengan membentuk segitiga dalam kelompok.

  • Buatlah kelompok dengan jumlah anggota 8 – 10 orang.
  • Bagi menjadi 4 kelompok kecil
  • Tiap kelompok berdiri sejajar di 4 titik pada jarak 3 meter
  • Satu kelompok kecil memegang bola dan diletakkan didepan kaki orang yang paling depan dan orang yang ada di pos 2 bersiap menerima bola
  • Tentukan jenis tendangan yang akan dilakukan, misalnya pada 5 menit pertama menendang dengan menggunakan kaki bagian dan pada 5 menit kedua menendang menggunakan kaki bagian luar
  • Bola di tendang lurus dan diarahkan ke depan teman di pos 2, orang yang paling depan di pos 2 menerima dan menendang ke arah pos 3, orang yang paling depan di pos 3 menrima dan menendang bola ke arah pos 4 dan orang yang paling depan di pos 4 menerima dan menendang ke arah pos 1.
  • Tiap orang yang telah melakukan tendangan berpindah tempat ke posisi belakang untuk memberikan kesempatan kepada rekannya di tiap pos
  • Pada saat melalukan latihan mengumpan menyilang, harus fokus terhadap bola, dan bola harus bergulir, serta bola hasil tendangan tidak jauh dari jangkauan rekannya.

Aktivitas 5 : Menendang bola bergerak secara berkelompok

Amatilah ilustrasi gambar di bawah ini


Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk menendang bola bergerak secara kelompok.
  • Buatlah kelompok dengan jumlah anggota 6 – 8 orang
  • Bagi menjadi dua kelompok kecil
  • Tiap kelompok berdiri sejajar pada jarak 3 meter
  • Satu kelompok kecil memegang bola dan diletakkan didepan kaki orang yang paling depan dan orang yang ada di pos 2 bersiap menerima bola
  • Tentukan jenis tendangan yang akan dilakukan, misalnya pada 5 menit pertama menendang dengan menggunakan kaki bagian dan 5 menit kedua menendang menggunakan kaki bagian luar.
  • Bola di tendang menyilang dan diarahkan ke depan temannya, usahakan jarak umpan tidak terlalu jauh dari temannya.
  • Lakukan mengumpan bola tersebut tanpa mengontrol bola, jadi bola ditendang langsung pada jarak 20 meter.
  • Pada saat melalukan latihan mengumpan menyilang, harus fokus terhadap bola, dan bola harus bergulir, serta bola hasil tendangan tidak jauh dari jangkauan rekannya.

Aktivitas 6 : Mengumpan pada jarak jauh

Amatilah ilustrasi gambar di bawah ini



Mengumpan pada jarak jauh dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti berpasangan dan berkelompok. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengumpan jarak jauh yaitu 1) bagian kaki yang digunakan, seperti menggunakan kaki bagian dalam, bagian luar dan punggung kaki; 2) hasil tendangan dapat menyusuri rumput atau tanah jika menendang dengan kaki bagian dalam dan luar, tetapi jika bola ditendang dengan menggunakan punggung kaki hasil tendangannya melambung.

Aktivitas 7 : Menendang menyilang pada jarah jauh

Amatilah ilustrasi gambar di bawah ini


Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk menendang bola menyilang pada jarak jauh.
  • Buatlah kelompok dengan jumlah anggota 5 – 6 orang
  • Bagi menjadi dua kelompok kecil dengan satu kelompok berada di dekat gawang dan satu kelompok berada di sepertiga lapangan Satu kelompok kecil yang berada di sepertiaga lapangan (pos 1) memegang bola dan diletakkan didepan kaki orang yang paling depan dan orang yang ada di pos 2 bersiap menerima bola
  • Tendang bola menggunakan punggung kaki arahkan bola ke area gawang, setelah menendang bola berlari untuk berpindah posisi ke dekat gawang (pos 2)
  • Orang yang menerima bola di dekat gawang menendang bola berlari untuk berpindah tempat ke pos 1.
  • Lakukan latihan menenedang bola menyilang tersebut dengan cara bergiliran, perhatikan rekan ketika melakukan tendangan untuk mengumpan ke area gawang Pada saat melalukan latihan mengumpan menyilang, harus fokus terhadap bola, dan bola harus melambung, serta bola hasil tendangan tidak jauh dari jangkauan rekannya.

3. Variasi Gerak Spesifik Menahan Bola

Gerak spesifik menahan atau mengontrol dilakukan dengan menggunakan beberapa bagian tubuh dan kaki, diantaranya dengan menggunakan kepala, dada, paha, punggung kaki, kaki bagian luar, kaki bagian dalam dan telapak kaki. Tujuan dari menahan bola tersebut bertujuan untuk mengontrol bola, sehingga bola dapat dikuasai dan diumpan ke rekan, atau mengamankan area pertahanan atau menembak ke arah gawang lawan.

Menghentikan bola dapat diartikan sebagai salah teknik untuk mengontrol pergerakan bola, sehingga bola dapat dikuasi oleh pemain. Kemampuan dalam pengontrolan bola sangat penting dikuasai oleh setiap pemain, maka kemampuan ini harus terus dilatih dan kemampuan dalam mengontrol bola akan lebih baik.

a. Menahan bola dengan kaki bagian dalam 

Amatilah kedua gambar di bawah ini.


Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk menahan bola menggunakan kaki bagian dalam.

Sikap awal

  • Berdiri selebar bahu dan sikap tubuh menghadap ke arah datangnya bola.
  • Kedua lengan dilemaskan disamping badan
  • Pandangan fokus terhadap bola

Pelaksanaan gerak

  • Pergelangan kaki yang akan digunakan untuk mengontrol bola diputar ke arah luar
  • Kaki yang digunakan untuk mengontrol bola diangkat diarahkan ke datangnya bola. Bola disentuhkan pada kaki bagian dalam, kemudian kaki ditarik ke belakang, selanjutnya bola dikuasai.

Sikap akhir

  • Pandangan fokus terhadap pergerakan bola
  • Bola disentuhkan pada kaki bagian dalam, kemudian kaki ditarik ke belakang, selanjutnya bola dikuasai

b. Menahan Bola dengan kaki bagian luar

Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk menahan bola dengan kaki bagian luar.

Sikap awal

  • Sikap tubuh berdiri dengan tubuh condong ke depan dan pandangan mata ke arah datangnya bola
  • Kedua lengan dilemaskan disamping badan
  • Pandangan fokus terhadap bola

Pelaksanaan gerak 

  • Pergelangan kaki yang akan digunakan untuk mengontrol bola diputar ke arah dalam
  • Kaki yang digunakan untuk mengontrol bola diangkat diarahkan ke datangnya bola.
  • Bola disentuhkan pada kaki bagian dalam, kemudian kaki ditarik ke belakang, selanjutnya bola dikuasai.

Sikap akhir

  • Pandangan fokus terhadap pergerakan bola 
  • Bola dikontrol dengan kaki luar dan tangan bergerak rileks untuk keseimbangan.

c. Menahan bola dengan punggung kaki 

Amatilah kedua gambar di bawah ini



Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk menahan bola dengan punggung kaki.

Sikap awal

  • Berdiri selebar bahu dan Sikap tubuh menghadap ke arah datangnya bola.
  • Kedua lengan dilemaskan disamping badan
  • Pandangan fokus terhadap bola

Pelaksanaan gerak

  • Ketika bola dilemparkan, angkat salah satu kaki ke atas Satu kaki sedikit ditekuk di lutut dan kedua lengan sedikit di buka untuk menyeimbangkan tubuh
  • Ketika bola bersentuhan dengan punggung kaki kaki diturunkan untuk mengurangi tumbukan sehingga bola tidak memantul
  • Bawa bola ke bawah dan bola dapat dikuasai dengan baik

Sikap akhir

  • Pandangan fokus terhadap pergerakan bola
  • Bola dikontrol dengan punggung kaki dan tangan bergerak rileks untuk keseimbangan.

d. Menahan bola dengan telapak kaki amatilah gambar disamping

Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk menahan bola menggunakan telapak kaki.


Sikap awal
  • Sikap tubuh berdiri dengan tubuh condong ke depan
  • Kedua lengan dilemaskan disamping badan
  • Pandangan fokus terhadap bola

Pelaksanaan gerak

  • Ketika bola data angkat ujung kaki sedikit ke atas. Bola yang akan dikontrol di tahan dengan sol sepatu (telapak kaki)
  • Kaki lainnya sedikit di tekuk di lutut dan kedua lengan sedikit dibuka untuk menjaga keseimbangan
  • Tahan bola dengan telapak kaki dan dan kuasai bola tersebut

Sikap akhir

  • Pandangan fokus terhadap pergerakan bola 
  • Bola dikontrol dengan telapak kaki dan tangan bergerak rileks untuk keseimbangan.

e. Variasi latihan gerak spesifik menahan bola 

Latihan mengontrol bola dalam permainan sepak bola sangat ditentukan oleh dua hal yaitu 1) mengontrol bola untuk bola mendatar (menyusuri rumput); dan 2) mengontrol bola untuk bola melambung. Mengontrol bola mendatar dapat dilakukan dengan menggunakan kaki bagian dalam, kaki bagian luar dan telapak kaki. Sedangan mengontrol bola melambung dapat dilakukan dengan menggunakan punggung kaki, paha dan dada.

Aktivitas 1 : Menahan bola secara berpasangan

Menahan bola mendatar dengan cara berpasangan dapat dilakukan pada jarak 3 meter atau lebih. Mengumpan dengan cara berpasangan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
  • Dua orang berdiri sejajar pada jarak 3 meter
  • Satu orang memengang bola yang diletakan di depan kaki dan temannya bersiap menerima bola
  • Tentukan bagian kaki yang akan digunakan untuk mengontrol bola, misalnya 5 menit pertama mengontrol bola dengan kaki bagian dalam, 5 menit kedua mengontrol bola menggunakan kaki bagian luar dan 5 menit ketiga mengontrol bola menggunakan telapak kaki.
  • Tendang dengan pelan dan menyusuri rumput atau tanah, orang yang ada dihadapannya menahan dan mengontrol bola, setelah bola dapat dikuasai selanjutnya tendang bola kea rah teman didepannya, dan orang yang didepannya melakukan hal yang sama yaitu mengontrol bola.
  • Perhatikan ketika menahan bola, tentunya bola yang ditahan dapat berhenti, dan kalaupun tidak berhenti masih dapat dijangkau atau dikontrol.

Aktivitas 2 : Menahan bola mendatar secara berkelompok

Amatilah gambar di bawah ini

Menahan bola mendatar dengan cara berpasangan dapat dilakukan pada jarak 3 meter atau lebih. Mengumpan dengan cara berpasangan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
  • Buatlah kelompok dengan jumlah anggota 8 – 10 orang
  • Tiap orang saling berhadapan pada jarak 3 meter dengan orang yang ada di depannya, dan 2 meter dengan orang yang ada disampingnya.
  • Satu orang memengang bola yang diletakan di depan kaki dan temannya bersiap menerima bola
  • Tentukan bagian kaki yang akan digunakan untuk mengontrol bola, misalnya 5 menit pertama mengontrol bola dengan kaki bagian dalam, 5 menit kedua mengontrol bola menggunakan kaki bagian luar dan 5 menit ketiga mengontrol bola menggunakan telapak kaki.
  • Tendang bola menyusuri tanah kepada orang yang dihadapannya, orang yang menerima bola bersiap untuk menahan bola
  • Orang pertama yang ada diharapannya menahan bola dengan bagian kaki yang telah ditentukan, selanjutnya setelah bola tersebut dapat dikontrol ditendang menyilang kea rah teman yang ada di depannya
  • Lakukan variasi latihan ini, setiap orang harus mendapat kesempatan yang sama untuk menahan/mengontrol bola
  • Pada saat menahan bola pastikan mampu dikontrol dengan baik.

Aktivitas 3 : Menahan bola melambung

Lakukan latihan menahan bola melambung secara berpasangan berdasarkan dan petunjuk berikut ini.
  • Dua orang berdiri saling berhadapan pada jarak 2 meter
  • Satu orang memegang bola dan dipegang depan perut dan teman yang ada dihadapannya siap untuk menerima bola.
  • Lambungkan bola kea rah teman yang dihadapannya, bola yang dilambut tidak terlalu jauh atau dekat dengan tubuh penerima
  • Terima bola menggunakan punggung kaki, lalu turunkan untuk menghindari tumbukan punggung kaki dengan bola sehingga bola mudah untuk dikontrol.
  • Lakukan latihan ini secara bergantian, misalnya tiap orang mencoba dalam waktu 3 menit.

Aktivitas 4 : Menahan bola secara berkelompok dalam lingkaran

Cermati ilustrasi gambar di bawah ini


Lakukan latihan menahan bola secara berkelompok dalam lingkaran berdasarkan dan petunjuk berikut ini.
  • Buatlah kelompok dengan jumlah 5 – 6 orang
  • Buatlah lingkaran yang cukup besar dengan jarak 1 meter tiap orang
  • Satu orang memegang bola yang diletakan di depan kakinya
  • Tendang bola kea rah temannya yang ada di seberang atau disampingnya
  • Orang yang menerima bola menahan bola menggunakan salah satu bagian kaki dan selanjutnya di tendang lagi. 
  • Lakukan latihan tersebut dengan penuh keseungguhan

3. Variasi Gerak Spesifik Menggiring Bola

Menggiring bola dalam permainan sepak bola membutuhkan keterampilan yang tinggi. Keterampilan menggiring bola membutuhkan kecepatan, kelincahan, kelenturan tubuh dan penguasaan bola yang baik. Keempat komponen tersebut menjadi prasyarat pemain memiliki keterampilan menggiring yang baik.

Tujuan menggiring bola dalam permainan sepak bola adalah untuk melewati dan mengelabui pemain bertahan. Menggiring bola dilakukan dengan gerakan menendang perlahan dan terputus setiap langkah kaki. Bagian kaki yang dapat digunakan untuk menggiring bola adalah kaki bagian dalam, kaki bagian luar dan punggung kaki. Pada saat menggiring bola harus selalu berkonsentrasi terhadap pergerakan bola dan lawan agar bola tidak dapat direbut. Berikut ini beberapa cara untuk mempraktikan keterampilan gerak menggiring bola.

a. Menggiring bola menggunakan kaki bagian dalam

Amatilah gambar di bawah ini.




Lakukan latihan menggiring bola menggunakan kaki bagian dalam berdasarkan dan petunjuk berikut:
  • Berdiri dengan kaki dibuka selebar bahu
  • Letakan bola dekat kaki bagian dalam
  • Tendang/dorong bola menggunakan kaki bagian dalam secara perlahan ke arah depan
  • Langkahkan satu kaki sambil menendang/ mendorong bola menggunakan kaki bagian dalam ke arah depan
  • Secara bergantian kaki kanan kiri digunakan untuk menggiring bola
  • Pandangan fokus kea rah pergerakan bola, tetapi jika sudah sedikit mahir, pandangan kea rah depan

b. Menggiring bola menggunakan kaki bagian luar

Amatilah gambar disamping



Lakukan latihan menggiring bola menggunakan kaki bagian luar berdasarkan dan petunjuk berikut :
  • Berdiri dengan kaki dibuka selebar bahu
  • Letakan bola satu langkah pendek di depan kaki
  • Tendang/dorong bola menggunakan kaki bagian luar dengan kaki kanan secara perlahan kea rah depan
  • Langkahkan kaki kiri mengikuti pergerakan bola agar bola dapat dikontrol dengan baik
  • Tendang/dorong bola secara bergantian antara kaki kiri dan kanan menggunakan kaki bagian luar secara bergantian.
  • Pandangan fokus terhadap pergerakan bola, tetapi jika sudah sedikit mahir, pandangan kea rah depan

c. Menggiring bola menggunakan punggung kaki 

Amatilah gambar di bawah ini




Lakukan latihan menggiring bola menggunakan kaki bagian luar berdasarkan dan petunjuk berikut:
  • Berdiri dengan kaki dibuka selebar bahu
  • Letakan bola satu langkah pendek di diepan kaki
  • Tendang/dorong bola dengan punggung kaki kanan secara perlahan kea rah depan Langkahkan kaki kiri dan langsung menendang/mendorong bola menggunakan punggung kaki kea rah depan
  • Pergerakan kaki pada saat melangkah sangat tergantung pada cepat lambatnya pergerakan bola
  • Lakukan mengiring bola menggunakan punggung kaki secara bergantian 
  • Pandangan fokus terhadap pergerakan bola

d. . Variasi latihan menggiring bola

Berikut ini beberapa variasi latihan menggiring bola yang dapat dilakukan dalam permainan sepak bola, antara lain :

Aktivitas 1 : Menggiring bola pada pada 2 titik 

Amatilah ilustrasi gambar di bawah ini


Lakukan latihan menggiring bola pada 2 titik berdasarkan dan petunjuk berikut :

  • Letakan cone pada dua titik dengan jarak 4 meter
  • Buatlah kelompok dengan jumlah anggota 4 – 6 orang
  • Seorang yang memegang bola berdiri di depan cone dan anggota kelompok lainnya berdiri berbanjar di belakangnya, Letakan bola di belakang cone,
  • Tentukan bagian kaki yang akan digunakan untuk menggiring bola, misalnya 5 menit pertama menggiring bola menggunakan kaki bagian dalam, 5 menit kedua menggiring bola menggunakan kaki bagian luar, dan 5 menit ketiga menggiring bola menggunakan punggung kaki
  • Tendang bola secara perlahan, menuju cone kedua, lewati cone dengan cara memutar cone dan kebali ke cone awal, berikan bola kepada rekan untuk bergiliran
  • Untuk meningkatkan kemampuan menggiring bola, dapat ditambahkan cone menjadi 3 dan

Aktivitas 2 : Mengiring bola pada jalur spiral

Amatilah gambar di bawah ini



Lakukan latihan menggiring bola pada jalur spiral (berkelok) berdasarkan dan petunjuk berikut :
  • Letakan 5 buah cone pada jarak 1 – 1.5 meter
  • Buatlah kelompok dengan jumlah anggota 5 – 6 orang
  • Salah seorang memegang bola dan berdiri di belakang cone pertama, dan anggota kelompok lainnya berdiri berbanjar ke belakang untuk menunggu giliran
  • Tentukan bagian kaki yang akan digunakan untuk menggiring bola, misalnya 5 menit pertama menggiring bola menggunakan kaki bagian dalam, 5 menit kedua menggiring bola menggunakan kaki bagian luar, dan 5 menit ketiga menggiring bola menggunakan punggung kaki
  • Tendang bola secara perlahan dan lintasi tiap cone dengan baik sampai cone terakhir, dan balik ke awal sama sambil menggiring bola
  • Lakukan latihan ini secara bergiliran dan untuk meningkatkan kemampuan menggiring bola dapat ditambahkan cone tersebut

4. Variasi Gerak Spesifik Menyundul Bola

Menyundul bola sangat tergantung pada situasi yang terjadi ketika bermain, pemain bertahan menyundul bola dengan tujuan untuk menjauhkan bola dari area pertahanan, sedangkan bagi penyerang menyundul bola sebagai upaya untuk mencetak gol atau mengumpan kepada rekannya.

Amatilah rangkaian gerak menyundul bola berikut ini



Lakukan latihan menyundul bola berdasarkan dan petunjuk berikut :
  • Berdiri dengan kedua kaki dibuka selebar bahu, kedua lemas disamping badan
  • Pandangan fokus terhadap arah datangnya bola
  • Pada saat bola datang usahakan tetap fokus dengan mata tetap terbuka
  • Sundul bola menggunakan dahi
  • Dorong bola dengan cara menggerakan otot leher ke arah depan
  • Menyundul bola dapat dilakukan sambil melompat.

Aktivitas 1 : Menyundul bola secara individu

Amatilah ilustrasi gambar di bawah ini




Lakukan latihan menyundul bola secara individu berdasarkan dan petunjuk berikut :
  • Pegang bola dengan menggunakan dua tangan
  • Lambungkan bola tegak lurus ke atas
  • Jika bola turun sambut dengan dahi dan arahkan bola ke atas dan sundul kembali dengan dahi
  • Jika bola turun dan tidak bisa disundul lagi, lambungkan kembali dengan kedua tangan
  • Lakukan latihan ini dengan bersungguh-sungguh untuk lebih menguasai kemampuan menyundul bola

Aktivitas 2 : Menyundul bola secara berpasangan

Amatilah ilustrasi gambar di bawah ini




Lakukan latihan menyundul bola secara berpasangan berdasarkan dan petunjuk berikut :
  • Berdiri saling berhadapan pada jarak 3 meter
  • Pegang bola oleh salah seorang, dan satu orang siap untuk menerima bola
  • Lambungkan bola tepat kea rah dahi teman,
  • Teman yang dihadapannya bersiap menyundul bola menggunakan dahi kea rah pelambung bola
  • Tangkap kembali bola, dan lambungkan kembali kea rah teman yang ada dihadapannya
  • Lakukan latihan tersebut secara bergilingan, misalnya tiap 10 sundulan dapat berganti peran yaitu pelambung menjadi penyundul dan penyundul menjadi pelambung.
  • Lakukan latihan bersungguh-sungguh untuk mendapat hasil maksimal

Aktivitas 3 : Menyundul bola secara berkelompok

Amatilah ilustrasi gambar di bawah ini






Lakukan latihan menyundul bola secara berkelompok berdasarkan dan petunjuk berikut:
  • Berdiri saling berhadapan pada jarak 3 meter
  • Pegang bola oleh salah seorang, dan satu orang siap untuk menerima bola
  • Lambungkan bola tepat kea rah dahi teman,
  • Teman yang dihadapannya bersiap menyundul bola menggunakan dahi kea rah pelambung bola
  • Tangkap kembali bola, dan lambungkan kembali kea rah teman yang ada dihadapannya
  • Lakukan latihan tersebut secara bergilingan, misalnya tiap 10 sundulan dapat berganti peran yaitu pelambung menjadi penyundul dan penyundul menjadi pelambung.
  • Lakukan latihan bersungguh-sungguh untuk mendapat hasil maksimal

5. Variasi Gerak Spesifik Lemparan ke Dalam

Lemparan ke dalam dilakukan di area samping garis lapangan, penyebab terjadinya lemparan ke dalam yaitu salah satu pemain menyentuh bola dan bola tersebut ke luar melaui garis samping lapangan. Lemparan ke dalam dapat dilakukan oleh semua pemain, namun hanya satu pemain yang memiliki kesempatan untuk lemparan ke dalam.

Amatilah gambar di bawah ini



Lakukan latihan lemparan berdasarkan dan petunjuk berikut :
  • Berdiri dengan kedua kaki rapat
  • Pegang bola dengan kedua tangan di bagian belakang bola
  • Angkat bola dan letakan di belakang kepala
  • Ayunkan kedua lengan secara bersamaan dan lepaskan bola Lakukan latihan dengan sungguh-sungguh agar dapat menguasai dengan baik

Melempar bola dapat dilakukan dengan menggunakan awalan, dengan tujuan untuk meningkatkan hasil lemparan yang jauh. Berikut ini lemparan ke dalam menggunakan awalan.
  • Buatlah garis atau tanda pembatas ketika melempar bola
  • Mundur 4 langkah ke belakang bola
  • Pegang bola dengan kedua tangan
  • Pegang bola di depan dada dan langkahkan kaki dengan cepat
  • Ketika mendekati garis, tarik bola belakang kepala
  • Lepaskan bola diluar garis dengan kedua kaki rapat
  • Lakukan latihan latihan ini dengan sungguh-sungguh agar dapat menguasai kemampuan melempar bola

6. Bermain Sepak Bola Modifikasi

Bermain sepak bola modifikasi bertujuan untuk meningkatkan kemampuan gerak spesifik permainan sepak bola. Berikut ini permainan sepak bola modifikasi yang dapat dilakukan antara lain.

Aktivitas 1 : Bermain bola dalam lingkaran

Amati gambar di bawah ini




Berlatih menendang bola dalam lingkaran dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan gerak spesifik menendang bola dengan kaki bagian dalam, bagian luar dan punggung kaki. Amati dan coba praktikan latihan gerak menendang bola yang dilakukan dalam lingkaran berikut ini :
  • Buatlah kelompok kecil dengan jumlah 4 – 5 orang dan tiap kelompok satu bola
  • Peserta yang ada di dalam kelompok tersebut membentuk lingkaran dan saling berpegangan tangan
  • Bola di tendang ke berbagai arah dengan salah satu kaki, baik kaki kiri dan kaki kanan
  • Peserta lain yang menerima bola melakukan hal yang sama yaitu menendang bola ke berbagai arah
  • Bola yang ditendang dilakukan dengan tendangan menggunakan kaki bagian dalam, bagian luar dan punggung kaki
  • Agar ada unsur persaingan, tiap peserta yang tidak mampu mengembalikan bola sehingga bola keluar lingkaran tidak bola mengikuti kembali, begitu seterusnya sampai terdapat satu orang yang mampu menjadi juara dan mampu mengambalikan bola

Aktivitas 2 : Bermain bola 2 lawan 4 atau 3 lawan 5

Permainan 2 lawan 4 atau 3 lawan 5, dilakukan dalam bentuk lingkaran, dan sering disebut kucing-kucingan. Berikut atauran permainan dan cara bermainnya :
  • Buatlah kelompok dengan jumlah anggota 6 – 8 orang
  • Tentukan 2 atau 3 orang yang bertugas untuk merebut bola, 4 atau 5 orang bertugas memainkan bola dengan cara menendang dan mengontrol bola dengan cara diundi atau sut.
  • Pemain yang bertugas merebut bola berada di tengah lingkaran, dan pemain lainnya membentuk lingkaran
  • Pemain yang bertugas memainkan bola dapat mengumpan ke teman yang ada disamping kiri, kanan dan di depannya dan tidak boleh sampai bolanya tersebut. Pemain yang bertugas merebut bola berupaya untuk menyentuh bola.
  • Jika bola dapat disentuh oleh lawan, maka perannya bergantian dari perebut bola dan pengumpan.
  • Lakukan latihan ini sampai dengan penuh kesungguhan untuk meningkatkan keterampilan bermain sepak bola.

Perkembangan Emosi Anak : Definisi, Pola dan Pengaruh dalam Pembelajaran

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa seorang anak bisa mendadak tantrum hebat atau justru menutup diri sepenuhnya di tengah kegiatan belajar? Di balik perilaku tersebut, terdapat labirin perkembangan emosi yang kompleks yang menjadi fondasi utama bagaimana mereka memproses dunia di sekitarnya. Memahami pola dan pengaruh emosi ini bukan sekadar soal pengasuhan, melainkan kunci rahasia untuk membuka potensi akademis dan sosial anak secara maksimal. 


Emosi mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia karena mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial. Pertumbuhannya bervariasi pada semua orang. Emosi dikendalikan oleh proses kematangan dan belajar. Katarsis emosi membersihkan seseorang dari energi yang tidak tersalurkan. Dia mencegah ledakan emosi yang dapat menimbulkan penolakan sosial.

Emosi merupakan suatu keadaan di dalam diri seseorang, yang tidak kelihatan dan sulit diukur. Emosi sulit diprogram, sifatnya unik, dan emosi merupakan milik kita sendiri. Manusia memiliki temperamen bawaan yang berbeda, sehingga rasa senang dan tidak senangpun berbeda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa emosi sebagian besar merupakan fungsi biologis. Meskipun demikian, cara kita merespon terhadap emosi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Berdasarkan hal tersebut  permasalahan yang diangkat dalam makalah ini yaitu : Apa definisi perkembangan emosi?; bagaimana pola dan variasi pola perkembangan emosi pada peserta didik?; bagaimana pola emosi peserta didik?; bagaimana pengaruh hormone, pengalaman dan emosi peserta didik?; bagaimana metode belajar penunjang perkembangan emosi peserta didik?; bagaimana kompetensi emosi yang harus dicapai peserta didik?

Sejak dilahirkan sampai tahun pertama, anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Para ahli mengungkapkan bahwa perkembangan pada tahun-tahun awal lebih kritis dibanding dengan perkembangan-perkembangan selanjutnya sehingga dapat dikatakan bahwa masa kanak-kanak merupakan gambaran awal seseorang sebagai seorang manusia.

Definisi Perkembangan Emosi

Perkembangan dan emosi merupakan dua hal yang berbeda secara etimologi. Perkembangan adalah proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan. Dalam perspektif psikologi, perkembangan merupakan perubahan progresif yang menunjukan cara bertingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungannya (Wiyani, 2013 : 55). Sedangkan menurut Jamaris dalam Yuliani N Sujiono (2009 : 54), perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif. Artinya, perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya. Oleh sebab itu, lanjut Jamaris, apabila terjadi hambatan pada perkembangan terdahulu, maka perkembangan selanjutnya cenderung akan mendapat hambatan. Perkembangan manusia sendiri merupakan proses yang kompleks, yang dapat dibagi menjadi empat ranah utama, yaitu perkembangan fisik, intelektual yang termasuk kognitif dan bahasa, serta emosi dan sosial, yang di dalamnya juga termasuk perkembangan moral (Wiyani, 2013 : 55).

Santrock (2007 : 18-19) mengungkapkan bahwa pola perkembangan manusia dihasilkan oleh hubungan dari beberapa proses biologis, kognitif, dan sosial-emosi. Proses biologis, jelas Santrock, menghasilkan perubahan pada tubuh seseorang. Gen yang diwarisi orang tua, perkembangan otak,pertambahan tinggi dan berat badan, keterampilan motorik mencerminkan peran proses biologis dalam perkembangan. Sedangkan proses kognitif, menggambarkan perubahan dalam pikiran, intelegensi, dan bahasa seseorang. Kemudian yang terakhir, proses sosial-emosi, melibatkan perubahan dalam hubungan dengan seseorang dengan orang lain, perubahan emosi, dan perubahan dalam kepribadian. Santrock mencontohkan dengan senyuman seorang bayi yang tersenyum karena sentuhan ibunya. Respon sesederhana itu, memerlukan proses biologis (karakteristik fisik sentuhan dan kepekaan terhadapnya), proses kognitif (kemampuan untuk memahami tindakan yang disengaja), dan proses sosial-emosi (senyum sering kali mencerminkan emosi positif dan senyuman membantu menghubungkan bayi dengan makhluk hidup yang lain). 

Emosi (emotional) adalah upaya atau kesiapan seseorang untuk membangun, mempertahankan, atau mengubah hubungan antara orang tersebut dan keadaannya yang berubah, mengenai hal-hal yang penting bagi orang tersebut. Emosi sebagai perasaan, afeksi, yang terjadi ketika seseorang berada pada sebuah kondisi atau interaksi yang penting khusus untuk kesejahteraannya. (Campos, Frankel, & Camras, 2004). Emosi ditandai oleh prilaku yang mengekspresikan kondisi senang atau tidak senang seseorang atau transaksi yang sedang dialami (Mc Burnett dkk., 2005; steven, dkk., 2005
Emosi adalah letupan perasaan yang muncul dari dalam diri se seorang,baik bersifat positif ataupun negatif (Rahman, 2002 : 110). Sedangkan dalam pengertian yang sederhana, Lawrence E. Shapiro dalam Suyadi (2010 : 109) menjelaskan bahwa emosi adalah kondisi kejiwaan manusia. Lawrence mengungkapkan karena sifatnya yang psikis atau kejiwaan, maka emosi hanya dapat dikaji melalui letupan-letupan emosioanal atau gejala-gejala dan fenomena-fenomena, seperti kondisi sedih, gembira, gelisah, benci, dan lain sebagainya.
Perkembangan emosi, dalam artian yang sederhana adalah luapan perasaan ketika anak berinteraksi dengan orang lain (Suyadi, 2010 : 108-109). Umar Fakhrudin (2010 : 48) menjelaskan bahwa perkembangan emosi adalah proses yang berjalan secara perlahan dan anak dapat mengontrol dirinya ketika menemukan self comforting behavior atau merasa nyaman. Atau dengan kata lain, anak belajar emosinya secara bertahap. 
Menurut Elizabeth B. Hurlock sebagaimana yang dikutip Riris Eka Setiani (2012 : 23) dalam skripsinya yang berjudul Metode Melatih Kecerdasan Emosional Anak, kemampuan anak untuk bereaksi secara emosional sudah ada semenjak bayi baru dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional ini adalah berupa keterangsangan umum. Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional mereka kurang menyebar, kurang sembarangan, lebih dapat dibedakan, dan lebih lunak karena mereka harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan.

Pola dan Variasi Pola Perkembangan Emosi

Pola dan vasiasi perkembangan emosi anak dikutif dari Hurlock, (1978), antara lain sebagai berikut :
1. Pada bayi yang baru lahir tidak memperlihatkan reaksi yang secara jelas dapat dinyatakan sebagai keadaan emosional yang spesifik. Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir, adapun gejala pertama perilaku emosional pada bayi antara lain keterangsangan yang kuat. Keterangsangan yang kuat dan berlebihan akan terlihat akan terlihat pada bayi yang baru lahir.
2. Pada usia kurang lebih 3 bulan muncul reaksi yang muncul pada bayi emosi senang dan tidak senang, reaksi tidak menyenangkan dapat diperoleh dengan mengubah posisi secara tiba-tiba, menempelkan benda dingi pada kulit bayi membuat bayi tersebut menangis. Rangsangan berupa yang menyenangkan berupa menyusui akan sangat menyenangkan pada bayi. 
3. Meningkatkanya usia reaksi semakin meningkat seperti emosi takuk, marah, kecewa, benci dll. Keterikatan dengan orang lain (ibu/ayah) terpenuhi akan memupuk rasa aman dan rasa percaya.
4. Pola perkembangan emosi dapat diramalkan, tetapi terdapat variasi dari segi frequensi, intensitas dan waktu dari berbagai macam emosi serta usia kemunculannya. (Hurlock, 1978 : 212)
5. Pada usia 2 – 4 tahun muncul temper tantrum (reaksi ledakan marah) dan berlanjut dengan pola ekspresi kemaharan yang lebih matang seperti cemberut

Pola Emosi Peserta Didik

Berikut ini ada beberapa pola emosi yang dijelaskan Hurlock yang secara umum terdapat pada diri anak, yaitu :

Rasa Takut

Pola emosi yang berkaitan dengan rasa takut antara lain rasa malu, rasa canggung, rasa khawatir, rasa cemas. Rasa takut berpusat pada bahaya yang bersifat fantastik, adikodrati, dan samar-samar. Mereka takut pada gelap dan makhluk imajinatif yang diasosiasikan dengan gelap, pada kematian atau luka, pada kilat guntur, serta pada karakter yang menyeramkan yang terdapat pada dongeng, film, televisi, atau komik.Terlepas dari usia anak, ciri khas yang penting pada semua rangsangan takut ialah hal tersebut terjadi secara mendadak dan tidak diduga, dan anak-anak hanya mempunyai kesempatan yang sedikit untuk menyesuaikan diri dengan situasi tersebut. Namun seiring dengan per kembangan intelektual dan meningkatnya usia anak, mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 

Rasa Marah

Pada umumnya, kemarahan disebabkan oleh berbagai rintangan, misalnya rintangan terhadap gerak yang diinginkan anak baik rintangan itu berasal dari orang lain atau berasal dari ketidakmampuannya sendiri, rintangan tehadap aktivitas yang sudah berjalan dan sejumlah kejengkelan yang menumpuk. Reaksi kemarahan anak-anak secara garis besar dikategorisasikan menjadi dua jenis yaitu reaksi impulsif dan reaksi yang ditekan. Reaksi impulsif sebagian besar bersifat menghukum keluar (extra punitive),dalam arti reaksi tersebut diarahkan kepada orang lain, misalnya dengan memukul, menggigit, meludahi, meninju, dan sebagainya. Sebagian kecil lainnya bersifat ke dalam (intra punitive), dalam arti anak-anak mengarahkan reaksi pada dirinya sendiri.

Rasa Cemburu

Rasa cemburu adalah reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata, dibayangkan, atau ancaman kehilangan kasih sayang. Cemburu disebabkan kemarahan yang menimbulkan sikap jeng kel dan ditujukan kepada orang lain. Pola rasa cemburu seringkali ber asal dari takut yang berkombinasi dengan rasa marah. Orang yang cemburu sering kali merasa tidak tentram dalam hubungannya dengan orang yang dicintai dan takut kehilangan status dalam hubungannya itu. 
Ada tiga sumber utama yang menimbulkan rasa cemburu. Pertama, merasa diabaikan atau diduakan. Rasa cemburu pada anak-anak umum nya tumbuh di rumah. Sebagai contoh, seorang bayi yang baru lahir yang pasti meminta banyak waktu dan perhatian orang tuanya. Sementara itu kakaknya yang lebih tua merasa diabaikan. Ia merasa sakit hati terhadap adiknya itu. Kedua, situasi sekolah. Sumber ini biasanya menimpa anak-anak usia sekolah. Kecemburuan yang berasal dari rumah sering dibawa ke sekolah yang mengakibatkan anak-anak memandang setiap orang, baik guru atau teman-teman kelasnya sebagai ancaman bagi keamanan mereka. Untuk melindungi keamanan mereka, anak-anak kemudian mengembangkan kepemilikan pada salah satu guru atau teman sekelasnya. Kecemburuan juga bisa disulut oleh guru yang suka membandingkan anak satu dengan anak lain. Ketiga, kepemilikan terhadap barang-barang yang dimiliki orang lain membuat mereka merasa cemburu. Jenis kecemburuan ini berasal dari rasa iri yaitu keadaan marah dan kekesalan hati yang ditujukan kepada orang yang memiliki barang yang diinginkannya itu.

Duka Cita

Bagi anak-anak, duka cita bukan merupakan keadaan yang umum. Hal ini dikarenakan tiga alasan. Pertama, para orangtua, guru, dan orang dewasa lainnya berusaha mengamankan anak tersebut dari berbagai duka cita yang menyakitkan karena hal itu dapat merusak kebahagiaan masa kanak-kanak dan dapat menjadi dasar bagi masa dewasa yang tidak bahagia. Kedua, anak-anak terutama apabila mereka masih kecil, mempunyai ingatan yang tidak bertahan terlalu lama, sehingga mereka dapat dibantu melupakan duka cita tersebut, bila ia dialihkan kepada sesuatu yang menyenangkan. 
Kemudian ketiga, tersedianya pengganti untuk sesuatu yang telah hilang, mungkin berupa mainan yang disukai, ayah atau ibu yang dicintai, sehingga dapat memalingkan mereka dari kesedihan kepada kebahagiaan. Namun, seiring dengan meningkatnya usia anak, kesediaan anak semakin bertambah dan untuk mengalihkan kesedihan dari anak-anak tidak efektif lagi.

Keingintahuan

Anak-anak menunjukan keingintahuan melalui berbagai perilaku, misalnya dengan bereaksi secara positif terhadap unsur-unsur yang baru, aneh, tidak layak atau misterius dalam lingkunganya dengan bergerak ke arah benda tersebut, memperlihatkan kebutuhan atau keinginan untuk lebih banyak mengetahui tentang dirinya sendiri atau lingkunganya untuk mencari pengalaman baru dan memeriksa rangsangan dengan maksud untuk lebih banyak mengetahui selukbeluk unsur-unsur tersebut.

Kegembiraan

Gembira adalah emosi yang menyenangkan yang dikenal juga dengan kesenangan atau kebahagiaan. Seperti bentuk emosi-emosi sebelumnya. Kegembiraan pada setiap anak berbeda-beda, baik mencakup intensitasnya maupun cara mengekspresikannya.

Kasih Sayang

Kasih sayang adalah reaksi emosional terhadap seseorang atau binatang atau benda. Hal ini menunjukan perhatian yang hangat dan memungkinkan terwujud dalam bentuk fisik atau kata-kata verbal (Riris Eka Seriani, 2012 : 31-35). Namun yang harus diketahui, bahwa setiap anak mempunyai emosi yang berbeda. Hal ini bisa terlihat dari bagaimana anak mengekspresikan tentang suatu keadaan, sedih misalnya. Sebagaian anak mengekspresikan kesedihan dengan menangis. Tetapi, bagi anak yang lain dalam mengekspresikan kesedihan bisa dengan wajah murung dan menyendiri di kamar atau yang lainnya.

Berdasarkan hal itu, oleh karenanya perkembangan emosi anak perlu men dapatkan perhatian yang lebih, terutama dari orang tua karena kondisi emosi seorang anak akan berdampak kepada penyesuaian pribadi dan lingkungan sosialnya. Berpijak dari hal itu, keluarga mempunyai peranan yang utama dan pertama karena pendidikan emosi anak dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua harus terampil dalam memberikan pendidikan emosi kepada anak agar anak mampu bergaul dengan baik.

Pengaruh Hormon, Pengalaman dan Emosi Peserta Didik

Fluktuasi emosi di masa remaja awal mungkin berkaitan dengan variabilitas hormon (Santrok, 2007 : 202). Ketika memasuki masa dewasa, suasana hati menjadi kurang ekstrem dan berkurangnya flutuasi emosional ini berkaitan dengan adaptasi terhadap kadar hormone seiring dengan berjalannya waktu (Rosenblum and lewis, 2003 dalam Santrok, 2007).

Penelitian menunjukan bahwa perubahan pubertas berkaitan dengan emosi-emosi negatif (archibald, & Brooks-Gunn, 2003 dalam santrok 2007). Peneliti berkesimpulan bahwa pengaruh hormonal Hasil penelitian lain, menunjukan bahwa pengaruh hormonal itu kecil jika dibandingkan dengan faktor lain, seperti stres, pola makan, aktivitas seksual dan relasi sosial (Susan & Rogol, 2004 dalam santrok, 2007). Sesungguhnya pengalaman lingkungan berpengaruh atau memberikan kontribusi besar terhadap emosi remaja dibandingkan dengan perubahan hormonal. Factor-faktor sosial menjelaskan sebesar dua atau empat kali lebih besar dibandingkan dengan factor hormonal, untuk varian depresi dan kemarahan remaja. Santrok (2007).

Diantara pengalaman yang menekan mungkin berkontribusi terhadap perubahan dalam emosi di masa remaja adalah transisi ketika memasuki sekolah menengah pertama dan munculnya pengalaman sosial dan relasi romantic (santrok : 2007 : 202). Perubahan hormonal dan pengalaman lingkungan terlibat dalam perubahan emosi di masa remaja, demikian pula dengan kemampuan remaja dalam mengelola emosinya. 

Metode Belajar Penunjang Perkembangan Emosi

Terdapat lima Metode belajar penunjang perkembangan emosi yang dikemukakan Hulock, (1978 : 214), yaitu :
  • Belajar dengan cara coba dan ralat (trial and error learning), cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa anak-anak dbanding usia remaja atau dewasa. Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekpresikan emosi dalam bentuk prilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan. 
  • Belajar dengan cara meniru (learning by imitation), dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi tertentu pada orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang lain yang diamati. Contohnya Guru menegur siswa yang ribut, dengan suara keras akan memberikan reaksi emosi marah pada siswa tersebut.
  • Belajar dengan cara mepersamakan diri (learning by identification), sama seperti cara belajar meniru, anak akan menirukan reaksi emosional orang lain dan tergugah oleh reaksi emosional yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi yang ditiru. Contohnya Siswa menirukan orang yang dikaguminya yang memiliki ikatan emosional, dan motivasi untuk menirukan orang yang dikaguminya lebih kuat dibandingkan dengan motivasi menirukan sembarang orang.
  • Belajar melalui Pengkondisian (conditioning), pengkondisian berarti belajar dengan cara asosiasi. Dalam metode ini objek dan situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada awal kehidupan anak, penggunaan metode pengkondisian setelah melewati masa anak-anak semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.
  • Pelatihan (traning), belajar dibawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika emosi terangsang, dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi emosional.

Kompetensi Emosi

Perkembangan emosional anak-anak relatif terhadap penyesuaian psikologis atau kesejahteraan mereka secara keseluruhan adalah memeriksa tingkat fungsi mereka sesuai dengan tingkat yang menurut Anda memiliki berbagai karakteristik keterampilan kompetensi emosional. Mirip dengan konstruksi semacam itu sebagai kesejahteraan, penyesuaian sosial, dan ego-ketahanan, konstruk kompetensi emosional adalah istilah superordinatif yang mengurangi sejumlah keterampilan terkait emosi. Definisi kompetensi emosional sangat mudah: itu adalah demonstrasi self-efficacy dalam transaksi sosial yang memunculkan emosi. Di tempat lain Salah satu dari kita (Saarni, 1999) telah secara luas meninjau kontributor perkembangan untuk kompetensi emosional; Secara singkat, mereka termasuk identitas diri atau ego, arti moral atau karakter, dan sejarah perkembangan seseorang. Komponen kompetensi emosional adalah keterampilan yang diperlukan untuk self-efficacy dalam transaksi sosial yang memunculkan emosi. 

Kesadaran akan keadaan emosi seseorang, termasuk kemungkinan bahwa seseorang mengalami beberapa emosi, dan pada tingkat yang lebih matang, kesadaran bahwa seseorang mungkin juga tidak secara sadar menyadari emosi seseorang karena dinamika yang tidak disadari atau kurangnya perhatian.
Keterampilan dalam membedakan emosi orang lain, berdasarkan situasi dan isyarat ekspresif yang beberapa derajat konsensus budaya mengenai makna emosional mereka.
Keterampilan dalam menggunakan kosakata istilah emosi dan ekspresi yang umumnya tersedia dalam subkultur seseorang dan pada skill tingkat yang lebih matang cetak mengakuisisi skrip budaya yang menghubungkan emosi dengan peran sosial.

Kapasitas untuk keterlibatan empati dan simpatik dalam pengalaman emosional orang lain.
Keterampilan dalam memahami bahwa keadaan emosional bagian dalam tidak perlu sesuai dengan ekspresi luar, baik dalam diri sendiri maupun pada orang lain, dan pada tingkat yang ditumbuk menurunkan perilaku ekspresif emosional seseorang dapat berdampak pada yang lain dan untuk memperhitungkan strategi presentasi diri seseorang.

Keterampilan dalam mengatasi emosi yang permusuhan dan keadaan yang menyedihkan dengan menggunakan strategi peraturan diri yang memperbaiki intensitas atau durasi temporal dari keadaan emosi seperti itu (mis., Stres kekerasan) dan dengan menggunakan strategi pemecahan masalah yang efektif untuk berurusan dengan situasi yang bermasalah.

Kesadaran bahwa struktur atau sifat hubungan sebagian besar didefinisikan oleh bagaimana dikomunikasikan dalam imediasi relasional atau keaslian tampilan ekspresial dan oleh tingkat timbal balik emosional atau simetri dalam hubungan (misalnya, keintiman matang sebagian didefinisikan oleh timbal balik atau. Berbagi timbal balik emosi asli, tetapi hubungan orangtua-anak mungkin memiliki berbagi asimetris dari emosi asli).

Kapasitas untuk self-efficacy emosional: individu memandang dirinya sendiri sebagai perasaan, secara keseluruhan, cara dia ingin merasakan. Self-efficacy emosional berarti bahwa seseorang menerima pengalaman emosional seseorang, baik yang unik dan eksentrik atau konvensional secara budaya, dan penerimaan ini berurusan dengan keyakinan individu tentang apa yang dimaksud dengan keseimbangan emosional yang diinginkan. Intinya, seseorang hidup sesuai dengan teori pribadi seseorang tentang emosi dan moral, ketika seseorang menunjukkan self-efficacy emosional.

Kesimpulan 

Dalam artian yang sederhana, perkembangan emosional adalah luapan perasaan ketika anak berinteraksi dengan orang lain. Sementara perkembangan sosial adalah tingkat jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat secara luas. Dengan demikian, perkembangan sosio emosional adalah ke pekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa perkembangan sosial emosional sejatinya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kata lain, membahas perkembangan emosi harus bersinggungan dengan perkembangan sosial anak. Demikian juga sebaliknya, membahas perkembangan sosial harus melibatkan aspek emosional sebab keduanya terintegrasi dalam bingkai kejiwaan yang utuh. 



Perkembangan sosial dan emosi yang positif memudahkan anak untuk bergaul dengan sesamanya dan belajar dengan lebih baik, juga dalam aktifitas lainnya di lingkungan sosial. Oleh karena itu, sangat penting memahami dan membantu anak-anak untuk memahami perasaan sendiri dan perasaan anak-anak lain untuk mengembangkan rasa hormat dan kepedulian kepada orang lain.


Referensi

Eisenberg, Nancy. (2006) Handbook Of Child Psychology. Sixth Edition Volume Three: Social, Emotional, and Personality Development. John Wiley & Sons, Inc., Hoboken, New Jersey.

Hurlock, Elizabet B (1978). Perkembangan Anak, Jilid 1 Edisi keenam. Jakarta : erlangga

Riris Eka Setiani, Metode Melatih Kecerdasan Emosional pada Anak di SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyah Purwokerto, Skripsi, STAIN Purwokerto 2012.

Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga.
Seefeld, Caroll dan A. Wasik. 2008. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Indeks.

Wiyani, Novan Ardy. 2013. Bina Karakter Anak Usia Dini . Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.

Wulan, Ratna. 2011. Mengasah Kecerdasan Pada Anak. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Peluang Berat Persib, Lolos Fase 16 Besar ACL Two

 Warga Negara pencinta sepak bola tentunya berharap persib sebagai tim kebanggaan bobotoh bisa membawa nama baik dan menaikan peringkat Li...