Artikel ini membahas tentang penerapan metode pembelajaran implisit yang dapat dilakukan oleh guru di sekolah atau orang tua di rumah. Mencakup definisi, jenis dan contoh metode pembelajaran implisit.
 |
| Contoh Penerapan Pembelajaran Implisit |
Apa itu Metode
Pembelajaran Implisit?
Pada
artikel sebelumnya telah dibahas metode pembelajaran eksplisit, bahwa guru
harus lebih menyampaikan pengetahuan deklaratif atau disampaikaan dengan lugas
dan jelas. Hal ini berbeda dengan metode pembelajaran implisit tidak
menyampaikan pengetahuan secara deklaratif. Ini menunjukan bahwa metode
pembelajaran implisit menurut Hodges dan William (2019) merupakan antitesis dari
metode pembelajaran eksplisit.
Istilah pembelajaran implisit disebut pula
dengan pembelajaran nondeklaratif atau pembelajaran procedural. Pakar dalam
bidang pendidikan yaitu Cook dan Woollacott (2012) mendefinisikan bahwa pembelajaran
implisit adalah pembelajaran prosedural, yang mengacu pada tugas pembelajaran
yang dapat dilakukan secara otomatis tanpa perhatian atau pemikiran sadar,
seperti kebiasaan. Artinya bahwa pembelajaran implisit banyak melakukan percobaan,
pengulangan gerakan untuk meningkatkan keterampilan.
Metode pembelajaran implisit merupakan suatu
cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengemas pembelajaran tanpa
memberikan pengetahuan deklaratif, tetapi guru menugaskan para siswa untuk
melakukan suatu tindakan atau gerakan.
Janis Pembelajaran Implisit
Pembelajaran
implisit digolongkan dalam empat bagian berbeda yang dapat diterapkan oleh guru
di sekolah.
1. Pembelajaran Primiring
Primiring adalah jenis
pembelajaran implisit yang dapat dimaknai proses rangsangan secara tidak sadar akan
mempengaruhi respon terhadap rangsangan berikutnya tanpa disadari oleh siswa. Sebagai
contoh jika seorang siswa melihat tulisan atau mendengar kata “sekolah” maka
siswa akan cepat mengingat kata “guru” atau “siswa”. Sekolah sebagai rangsangan
awal (primer), sedangkan guru dan siswa adalah stimulus berikutnya yang saling berkaitan.
Contoh penerapan primiring
sangat cocok diterapkan pada mata pelajaran bahasa seperti Bahasa Inggris,
Indonesia atau Bahasa Daerah, seperti contoh dalam meningkatkan kosakata siswa,
seorang guru menuliskan kata “sungai” siswa ditugaskan mencari kata yang
berhubungan dengan sungai, misalnya siswa menuliskan kata “air”, “banjir”, “ikan”
dan lainnya. Dalam konteks ini guru telah melakukan primiring yaitu mengiring
siswa untuk belajar implisit dengan menghubungkan kata sungai dengan kata
lainnya yang berkaitan, sehingga guru tidak perlu menjelaskan secara eksplisit.
2. Pembelajaran Keterampilan
dan Kebiasaan
Pembelajaran
keterampilan dan pembiasaan dalam konteks pembelajaran implist yaitu suatu proses
di mana siswa mengembangkan keterampilan, kognitif, atau perilaku melalui
latihan berulang tanpa kesadaran penuh tentang apa yang sedang dipelajarinya.
Pada dasarnya, keterampilan dan kebiasaan terbentuk secara otomatis dan
bertahap melalui praktik dan pengalaman, tanpa membutuhkan instruksi langsung.
Belajar Keterampilan Gerak
Pembelajaran
keterampilan sangat erat kaitannya dengan mata pelajaran Pendidikan Jasmani. Siswa
belajar keterampilan gerak dengan melakukan gerakan yang sama, misalnya seorang
pemain bola voli mempelajari keterampilan passing bawah dan atas diulang-ulang
dalam periode waktu yang ditentukan yang kemampuannya meningkat, maka pada
tahap mahir seorang pemain tidak perlu mengingat kembali teknik yang benar
tetapi sudah otomatis tahu cara menerima bola dengan baik.
 |
| Pembelajaran Keterampilan Gerak |
Contoh pembelajaran implisit pada keterampilan gerak, misanya seorang
anak sedang belajar naik sepeda roda dua, apakah orang tua harus memberitahun
cara menaiki sepeda, mulai dari menaiki, mengayuh pedal, menyeimbangkan tubuh
agar tidak jatuh? Umumnya anak akan mencoba secara berulang-ulang untuk mampu
menaiki sepeda orang tua tidak memberikan teori cara menaiki sepeda, orang tua
hanya membantu dengan tahapan seperti bisa di awali dengan sepeda roda empat
dulu, lalu roda tiga dan dicoba dengan roda dua. Ketika anak sudah mampu
menaiki sepeda dan ditanya cara yang benar menaiki sepeda kemungkinan anak
kesulitan menguraikan jawabannya.
Pembentukan
kebiasaan
Kebiasaan
terbentuk melalui pengulangan aktivitas tertentu secara otomatis tanpa
memerlukan banyak pertimbangan atau pemikiran sadar. Proses pembentukan
kebiasaan adalah bagian dari pembelajaran implisit karena sering kali terjadi
di bawah sadar. Kebiasaan adalah perilaku yang dilakukan berulang-ulang hingga
menjadi bagian dari rutinitas otomatis.
Contoh : seorang siswa membuang sampah setiap kali makan atau kegiatan apapun yang
menyisakan sampah tanpa haru disuruh atau diingatkan. Ada pula siswa yang
terbiasa merapihkan tempat tidur ketika bangun pagi. Prilaku tersebut merupakan
hasil dari pembelajaran pembiasaan yang dibentuk telah menjadi rutinitas
sehingga melekat pada diri siswa.
Pembelajaran keterampilan
dan pembiasaan perlu dilakukan dengan konsisten, dipantau dan membutuhkan waktu
sehingga keterampilan menjadi otomatisasi dan kebiasaan positif dapat
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pembelajaran asosiatif
Pembelajaran asosiatif dalam konteks
pembelajaran implisit dapat diartikan sebagai suatu proses siswa secara tidak
sadar membentuk hubungan antara dua rangsangan atau prilaku dan konsekuensi
yang diterima tanpa sadar. Ini merupakan bagian dari pembelajaran yang terjadi dimana
siswa tidak menyadari prosesnya tepati mempengaruhi prilakunya.
Contoh 1 : misalnya
disekolah terdengar bel atau lonceng berbunyi pada pukul 09.30 pagi secara
tidak sadar para guru dan siswa menyudahi pembelajaran karena mereka tahu bahwa
bel pada jam tersebut adalah waktunya istirahat. Rangsangan berupa bunyi bel
merupakan rangsangan yang diasosiasikan untuk istrahat di luar kelas.
Contoh 2 : dalam pembelajaran matematika, siswa sering
kali belajar mengasosiasikan operasi tertentu dengan hasil yang diharapkan.
Misalnya, ketika melihat tanda tambah (X), siswa langsung mengasosiasikan
simbol itu dengan proses perkalian, meskipun tidak selalu harus mengingat
aturan eksplisit setiap kali. Paparan berulang terhadap simbol tersebut membuat
mereka secara otomatis tahu tindakan apa yang harus dilakukan.
Contoh 3 : Seorang
guru memberikan pujian atau hadiah setiap kali seorang siswa menyelesaikan
tugas tepat waktu. Siswa mulai mengasosiasikan penyelesaian tugas dengan
konsekuensi positif (pujian atau hadiah), sehingga mereka terdorong untuk
menyelesaikan tugas tepat waktu di masa depan. Ini adalah bentuk pembelajaran
asosiatif melalui penguatan.
4. Pembelajaran
Nonasosiatif
Pembelajaran nonasosiatif dalam konteks
pembelajaran implisit diartikan sebagai proses di mana perubahan dalam respon
terhadap suatu rangsangan terjadi setelah penyampaian atau latihan berulang
tanpa adanya pembentukan asosiasi antara stimulus yang berbeda. Ini berbeda
dari pembelajaran asosiatif karena melibtkan satu rangsangan yang diberikan
berulang kali, dan pembelajaran ini terjadi secara tidak sadar.
Habituasi
Habituasi merupakan suatu kondisi yang dirasakan individu atau orang untuk membiasakan keadaan di lingkungannya sehingga menjadi terbiasa.
Contoh 1 : jika kelas dekat dengan
jalan raya, terdengar suara mesin kendaraan, pada awalnya siswa tidak nyaman
dan terganggu, namun seiring waktu para siswa sudah terbiasa dan tidak lagi
terganggu dengan suara bising dari kendaraan tersebut. Proses ini terjadi
secara implisit, secara tidak sadar mereka telah berlajar untuk mengabaikan
suara tersebut. Ini termasuk jenis habituasi atau penurunan respon terhadap
rangsangan yang muncul secara berulang.
Contoh 2 : rasa gugup akan muncul jika siswa pertama
kali tampil di depan kelas, namun dengan latihan dan melakukan lagi pada kesempatan
kedua, rasa gugup akan berkurang, ini adalah contoh habituasi, dan rasa gugup
tersebut akan berkurang ketika tampil di depan rekan-rakannya di kelas.
Sensitisasi
Terjadinya peningkatan respon terhadap
rangasangan disebut dengan sensitisasi, terutama untuk rangasangan yang
diasosiasikan dengan pengalaman yang kuat.
Contoh 1 : jika guru akan menyampaikan
instruksi penting dan para siswa siswa ribut sehingga suara siswa dan guru
berbaur, seketika guru itu diam tidak berbicara dan tidak lama kemudian para
siswa pun diam suasana hening. Pada keheningan tersebut siswa belajar dan focus
pada penjelasan tersebut setelah cara ini dilakukan.
Contoh 2 : teguran dan hukuman bisa diterapkan jika siswa
melanggar dan tidak disiplin. Teguran diberikan kepada siswa setiap kali
melanggar dan dinaikan menjadi hukuman jika terus melanggar. Sensitisasi disini
akan membuat siswa lebih peka terhadap konsekuensi negative berupa hukauman dan
berharap tidak mengulangi kembali pelanggarannya.